Jeda

Entahlah malam ini tak seperti malam biasanya, kemarin saya menon aktifkan facebook saya. Malam ini rasanya saya ingin menon aktifkan wa saya. Tp mustahil…

Setiap orang memiliki kisah masing2 yang gak bisa kita anggap sepele. Kenapa sy begitu midah mengenal org lain dan berempati bukan hanya simpati? Karena sy mengenal diri saya sendiri dengan baik.

Hidup sebagai single parents dengan 2 bayi bukan hal yg mudah, ditambah memiliki kewajiban yang harus diselesaikan karena ditinggalkan kewajiban tersebut oleh ex husband tersebut. Jika divorce sekedar divorce itu bukan masalah, ini ditambah financial crisis, and etc… intinya sy bukan mau membahas mslh ex husb karena sudahlah biar menjadi urusan Allah semua hal yg tak mampu saya hadapi dan mengerti. Walau bagaimanapun dia bapak dr anak2 saya, semoga dia tenang disana.

Anyway, hidup sebagai saya, ya saya… single parents yg multi peran karena mencari nafkah bukan lagi menjadi tambahan atau sekedar mengisi waktu luang, melainkan sebuah kewajiban, dan menjadi baby sitter saat waktu kosong termasuk begadang setiap malam bukan hal yg bisa dihindari sehingga lelah menjadi satu, serta menjadi teman baik bagi buah hati menjadi hal yang utama karena walau bagaimanapun mereka tak boleh merasa kekurangan kasih sayang meski tetap berbeda jika ada 2 org ayah dan ibunya. Multi peran yg lain adalah, saya seorang yg aktif dalam komunitas2 pergaulan mostly di partai politik, juga pertemanan diluar politik, dan ga kalah penting adalah me-time yg harus saya miliki…. semua hal itu harus menjadi satu di dalam jadwal saya dan pikiran saya karena itulah hidup saya. Lalu bagaimana dengan mencari Pepo pengganti bagi Tuan Puteri dan Kapolri masa depan alias anak2 saya. Itu tentu saya pikirkan bahkan sy selalu berdoa dalam sujud saya, biarlah Allah yang mendekatkan dan mempertemukan, karena yang terpenting usaha saya memperbaiki diri dan kehidupan saya dulu.

Malam ini, seperti menjadi titik balik bagi saya bahwa pertimbangan saya ingin hidup normal seperti wanita lainnya harus dimulai. Bukan gak mau mengerti politik, tetap memahami politik wajib, tp sy butuh jeda untuk tidak terlibat di politik. Saya tidak mengatakan diri saya baik dan sempurna, tapi apa yg sy lakukan tidak pernah merugikan orang lain apalagi menyusahkan orang lain. Minimal saya tidak pernah men judge org lain seperti mereka mudah men judge orang. Pada akhirnya sy memang meyakini, hidup menjadi perempuan sederhana dalam permintaan lebih mudah dan menenangkan. Ah gak perlu lah berpikiran soal karier politik saya, pergaulan politik, jabatan politik, dan lain sebagainya atau bahkan mengenal orang2 hebat diluar sana yang orang sering foto2. Malam ini, aku lepaskan segalanya, aku pasrahkan kepada Allah. Saya lelah…. lelah menjadi orang yang selalu diinginkan orang lain dan harus selalu kuat menerima judgement apapun.

Pada akhirnya, aku lebih membutuhkan perhatian terbaik dari suami masa depanku nanti Pepo dr anak2 ku, serta anak2 dan keluargaku bukan dr jutaan orang yg perlu menganggapku baik. Ketenangan hati karena dicintai dan mencintai orang2 yang tepat dalam hidup termasuk persahabatan rasanya sangat diperlukan menyeleksi lagi siapa sahabat terbaik. Mulai sekarang, saya tidak peduli saya tidak mengenal atau dikenal oleh orang2 yang mereka anggap penting, yang penting saya bisa menjadi diri saya apa adanya dengan tidak merugikan orang lain dan berbuat seperti menggantikan malaikat yaitu menilai orang seenaknya seolah selalu benar.

Saya disakiti oleh orang2 politik, bahkan bapak anak2 saya orang politik, teman yang menikam saya adalah orang politik, orang yang menjudge saya sebelah mata juga orang politik, orang2 yg mengkhianati saya pun orang politik. Mereka semua politik aktif… maka dari itu, ini menjadi bagian pembenahan diri saya untuk tidak memiliki personal relation dengan orang2 yg politic active. Cukup sekedarnya dan profesional relationship. Karena saya sadar, saya tidak boleh melakukan kesalahan yg sama. Ini adalah waktunya koreksi diri dan mengevaluasi semua hal dalam hidup karena 1 bulan lagi tahun akan berganti menuju 2020. Sy pamit dr dunia politic ini entah sampai kapan. Kalaupun saya harus terlibat politik aktif 1 hal yg sy pegang, sy tidak akan mempercayai siapapun didalamnya. Yg paling sy butuhkan adalah sosok pendamping hidup saya yang selalu bs mendamaikan dan menentramkan hati ini dan percaya pada saya. Meski itu belum ada tapi sy yakin Allah sudah mempersiapkannya.

Orang2 di dunia politik hanya semu, termasuk pertemanan dan pergaulan semu. Hingga mereka merasa mudah menjadi “AKU” dalam dirinya akhirnya seolah apa yg ada dipikirannya selalu benar.

Mereka gak pernah tau hal2 buruk dan kelam yang saya harus lalui hingga mencapai titik ini. Saya masih bisa hidup aja udah bersyukur, kalau saya gak inget anak2 saya pasti saya sudah mengakhiri hidup ini dari dulu. Dan tau2 kalian seenaknya menilai hidup saya mudah? Suatu hari, jika semua sudah teratasi dengan baik sy akan bikin buku agar bisa menginspirasi orang lain khususnya perempuan. Karena cantik saja tidak cukup tanpa pengetahuan, namun kepandaian juga tak cukup tanpa network, dan network pun tidak cukup tanpa kebijaksanaan.

I’m done.

Its time for me to focus on my self. Every second is worthwhile.

2 thoughts on “Jeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s