Terima kasih 2021

30 April 2021

Ini wajah saya tepat 30 April kemarin saat ulang tahun. Tdk spt kebanyakan orang. Ulang tahun sll aku jadikan kontemplasi diri maka dari itu seperti yg kalian lihat mata saya bengkak krn nangis ga berhenti2 sejak menjelang jam 12 malam sampai pagi.

Banyak hal yg sudah aku lewati, dari semua hal ujian mungkin kebanyakan orang ga pernah tau bahwa aku pernah mengalami masa sulit sampai anak sakit aja gak ada uang buat ke RS tapi Allah itu sangat dekat aku sangat percaya. Dia mengirimkan orang2 terbaik dalam hidupku yg menolongku saat2 tersulit dalam hidupku.

Dari semua ujian dan hal2 yg mungkin belum aku capai namun ternyata LEBIH BANYAK HAL yang aku syukuri daripada yang aku sesali. Karena dari segala ujian aku menemukan tempat untuk belajar.

Kadang Tuhan mengirim orang atau kejadian hanya untuk menguji hati kita, kekuatan, dan keimanan kita. Aku bersyukur dapat selalu bangkit saat terjatuh dan bangkit lbh tinggi lagi… dan aku bersyukur aku lebih menghargai diriku sendiri dan menetapkan skala prioritas dalam hidupku.

Terima kasih semuanya kalian keluarga dan para sahabatku yg selalu aku sebut dalam setiap doaku terutama di sepertiga malamku. Karena apa yg kalian lakukan saat aku terjatuh lebih berarti daripada saat aku bersenang2 dg yang lain.

2021 kamu tahun terbaik dalam hidupku!!!! 💙

New Year 2021

𝗧𝗵𝗶𝘀 𝗺𝗲𝘀𝘀𝗮𝗴𝗲 𝗶𝘀 𝘁𝗼 𝗰𝗼𝗻𝘃𝗲𝘆 𝗺𝘆 𝗵𝗲𝗮𝗿𝘁𝗳𝗲𝗹𝘁 𝗴𝗿𝗲𝗲𝘁𝗶𝗻𝗴𝘀 𝘁𝗼 𝘆𝗼𝘂 𝗮𝗻𝗱 𝘆𝗼𝘂𝗿 𝗳𝗮𝗺𝗶𝗹𝘆.

A new year is a chance to make new beginnings and letting go of old regrets.

Let’s make our New Year resolution to be there for each other and help fellow human beings in need even if we don’t know them personally. So come let’s spread some kindness and cheer!

𝚆𝚒𝚜𝚑𝚒𝚗𝚐 𝚎𝚟𝚎𝚛𝚢𝚍𝚊𝚢 𝚘𝚏 𝚝𝚑𝚎 𝙽𝚎𝚠 𝚈𝚎𝚊𝚛 𝚝𝚘 𝚋𝚎 𝚏𝚒𝚕𝚕𝚎𝚍 𝚠𝚒𝚝𝚑 𝚂𝚞𝚌𝚌𝚎𝚜𝚜, 𝚑𝚊𝚙𝚙𝚒𝚗𝚎𝚜𝚜, 𝚊𝚗𝚍 𝚙𝚛𝚘𝚜𝚙𝚎𝚛𝚒𝚝𝚢 𝚏𝚘𝚛 𝚢𝚘𝚞.

𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓝𝓮𝔀 𝓨𝓮𝓪𝓻 2021!

.
.
.

AWR #AWRfoundation #ReThinkbyAWR #strategicparthership #opengovernmentpartnership #communitybased #humanrights #makingothersbetter #womenwithvoices #everyonetobeinvolved #makeabetterworld #happiness #happilyeverafter #love #shiningbright #networker #lobbyist #newyear #happynewyear #happynewyear2021 #2021goals #2021planner #2021

Greetings from Founder

Hidup No Drama

BAGAIMANA SIH CARA biar tahu kalau kamu punya hubungan yang beracun atau gak? Gampang saja, perhatikan bagaimana perasaan kamu apakah  happy  atau gak?  Toxic relationship  itu bisa jadi kamu mendapat kekerasan fisik, depresi, sedih, cemas, atau marah. Gak cuma kadang-kadang, tapi sering.  

Banyak juga orang yang gak sadar kalau mereka ternyata menjalani toxic relationship atau abusive relationship. Kasar (abusive) gak cuma main fisik lho. Kalau pasangan sudah menghina, merendahkan, dan mempermalukan, sampai kamu merasa kecil dan sulit untuk dicintai, itu termasuk emotionally abusive. Dan itu gak sehat.

Cemburu berlebihan, mengancam untuk bunuh diri kalau diputusin, control freak, melarang kamu mencapai mimpi dan cita-cita, juga termasuk tanda hubungan beracun. Kalau dia memperlakukanmu dengan buruk, maka ada yang gak beres dengan dirinya. Karena orang normal tuh gak seenaknya menghancurkan orang lain, apalagi pasangan yang katanya dia cintai. Gini deh, orang yang ingin melihat kamu menderita demi kepuasannya itu bahkan dari awal seharusnya gak pernah masuk dalam hidupmu.

Ada banyak alasan kenapa seseorang mau bertahan meski jelas hubungan yang dijalani gak bikin bahagia atau bahkan merusak. Bisa jadi karena takut hidup sendiri atau menjadi single lagi, masalah finansial, males untuk mengenal orang baru dan membangun hubungan dari awal lagi, atau masalah yang lebih rumit dari itu. Sedih sih tapi nyata, gak sedikit orang memilih sakit ketimbang memulai babak baru. 

Memutuskan untuk sementara sendiri itu memang perlu keberanian. Tapi percaya deh, single itu lebih baik daripada berada dalam hubungan beracun. Malahan nih, dengan menjadi single berarti kamu bisa membuka jalan untuk orang lain yang benar-benar akan mencintai dan menghargaimu. Seperti untuk menghidupkan kembali kamar yang kusam, lembab dan gelap, kamu perlu membuka jendela dan pintu biar udara segar dan cahaya matahari masuk. 

Sayang bangetlah kalau hidup kamu habiskan dengan menderita sampai kamu mati. 

Gak perlu takut untuk jatuh cinta lagi karena dari awal cinta memang gak pernah melukaimu. Orang yang kamu cintailah yang melakukannya. Tapi ingat, gak semua orang itu bajingan, sama seperti gak semua jeruk itu rasanya asam. Kamu cuma perlu pilih-pilih saja.

Toxic relationship itu kayak hidup satu kamar dengan ular berbisa. Kamu akan selalu merasa terancam sampai akhirnya kamu keluarkan ular itu, atau kamunya sendiri yang keluar dari kamar. Dibutuhkan keberanian buat menyelamatkan diri, tapi setelah berhasil kamu akan berterima kasih kepada dirimu sendiri. Ingat kata-kata saya barusan.  

Gak apa-apa kok menjauh dari orang yang menjatuhkanmu, menjauh dari pertengkaran yang gak selesai- selesai, menjauh dari orang yang gak pernah menganggapmu berharga. Menjauh bukan berarti kamu pengecut atau menjadikanmu buruk. Bukan juga karena kamu marah atau dendam dengan mereka, tapi karena kamu peduli dengan dirimu, dengan kesehatan mentalmu. Karena pada dasarnya, you are the priority.

Gak ada yang mau hidupnya menderita. Tapi kalau kejadian, kamu selalu punya pilihan untuk keluar dari situasi itu, and it’s all up to you. No one will do that for you.

SADAR

KITA LAHIR SENDIRI , mati sendiri, hidup pun dijalani sendiri. Pastikan semua keputusan atau pilihan dalam hidup berasal dan atas seizin diri sendiri. Sadar atau  conscious  itu sangat penting dalam mengambil keputusan, yang ujungnya menentukan akan seperti apa hidup kita nanti. Masa lalu, masa kini dan masa depan itu saling berkaitan. Dan pilihan menjadi elemen penting yang menjadi lemnya. 

Masa kini adalah hasil dari perbuatan dan pilihan-pilihan kita di masa lalu, dan masa depan ditentukan oleh perbuatan dan pilihan-pilihan kita di masa kini.  

Mau hidup sendiri atau dengan pasangan, pada dasarnya hidupmu adalah milikmu sendiri. Cuma kamu kok yang bisa merasakan bahagia atau gaknya menjalani hidup. Bahkan kita gak pernah bisa berbagi perasaan dengan pacar atau suami/istri. Itu faktanya. Karena masing-masing individu punya hati dan perasaan masing-masing. Gak ada lho orang yang mampu menggantikan seseorang untuk merasakan sesuatu.

Hidup seorang manusia menjadi tanggung jawab manusianya itu sendiri. Kualitas hidupnya pun ditentukan oleh kualitas usahanya. Jadi kalau ada orang yang merasa hidupnya terpuruk, orang pertama yang perlu dia minta pertanggungjawaban adalah dirinya sendiri. Seberapa besar dan kuat usahanya untuk memperbaiki hidupnya buat menjadi lebih baik? 

Sedih terjadi di dalam diri kamu. Bahagia terjadi di dalam diri kamu. Semua itu gak pernah terjadi di luar diri kamu. Apa yang terjadi di dalam diri (emosi, pikiran, dsb.) sepenuhnya ditentukan oleh kamu. Apa yang terjadi di sekitar kamu gak akan pernah 100% ditentukan oleh kamu.

OK, katakan kamu berpikir hidup kamu sekarang susah karena perbuatan orang lain. Kamu menjalani hidup yang bukan kemauan sendiri. Pertama, dengan membiarkan orang lain memilih untuk kamu, itu saja sudah menjadi pilihan. Kedua, itu gak otomatis membenarkan kamu untuk terus hidup susah. Kamu masih punya pilihan buat move on dan memperbaiki hidup. 

Ketika sesuatu melukai kamu, hanya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil. Apakah kamu memilih untuk terluka? Atau kamu memilih untuk menjadi bijaksana?

Kalau mau diurutkan ke belakang, kita bisa berakhir seperti hari ini karena keputusan dan pilihan di masa lalu. Itulah kenapa penting untuk selalu sadar dan bijak dalam mengambil keputusan dan pilihan. Raise your consciousness. 

Kutipan dari: “Muda Bahagia No Drama” oleh Jelita Sopani.

STOP PHUBBING

HINDARI PHUBBING

Phubbing adalah istilah sibuk main HP dan mengabaikan orang di hadapan kita, itulah yang terjadi, pola anti sosial.

Stop phubbing kalau kita sedang berhadapan atau sedang dalam pertemuan. Ini kata baru dan sedang diadakan campaign / kampanye anti phubbing.

JAUHI PHUBBING

Enam tahun silam, tepatnya pada bulan Mei 2012 para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan berkumpul di Sidney University. Hasil pertemuan tersebut melahirkan satu kata baru dalam tata bahasa Inggris.

Kata tersebut adalah phubbing. Yaitu sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget ditangannya, sehingga ia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada di dekatnya.

Karena sudah menjadi fenomena yang sangat umum, dunia sampai memerlukan sebuah kata khusus untuk penyebutannya. Kini kata phubbing secara resmi sudah dimasukkan dalam Kamus Bahasa Inggris di berbagai negara.

Sampai saat ini Bahasa Indonesia belum memiliki kata serapan dari phubbing ini. Padahal kita sendiri sering berbuat phubbing. Misalnya saat berbicara dengan petugas teller di bank, tangan kita sambil memainkan gadget.

Ketika menemani anak-anak mengerjakan tugas sekolah, setiap satu menit sekali kita melirik layar handphone kalau-kalau ada notifikasi yang masuk.

Pada momen makan berdua di restoran dengan istri/suami/pacar/temen/ anak… yang terjadi sekarang.. hp diletakkan sedekat mungkin di sisi kita dan mampu menyela obrolan apapun ketika ada suara pesan dari medsos.

Ya.. Kita sudah menjadi phubber sejati.

PHUBBING = kependekan dari kata : PHONE and SNUBBING; diciptakan oleh Alex Haigh seorang Australia. Dalam penelitiannya menemukan fakta mengabaikan sesama dalam masyarakat dan keluarga saat bertemu.

Saudaraku, mari kita benahi diri sendiri. Tidak berarti kita berhenti gunakan HP, tapi setidaknya kurangi phubbing sebisa mungkin.

HORMATILAH ORANG – ORANG DISEKITAR ANDA, JANGAN SAMPAI ANDA DIKATAKAN TIDAK MEMPUNYAI SOPAN SANTUN OLEH ORANG DISEKITAR ANDA

Jangan sampai handphone yang kita beli dengan keringat hasil usaha sendiri ini, justru memisahkan kita dengan teman, dengan sahabat, bahkan memisahkan kita dari saudara, orangtua, anak dan suami atau istri

Bamsoet Gandeng ILUNI UI Review Berbagai Produk UU

JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) akan bekerjasama meninjau kesesuaian berbagai produk undang-undang (UU) terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Program tersebut merupakan kelanjutan dari legislative review yang pernah digagas Bamsoet saat dirinya menjabat Ketua DPR RI.

“Sejak didirikan pada tahun 2003, hingga tahun 2020 ini Mahkamah Konstitusi (MK) telah menerima 2.088 perkara uji materi terhadap 699 UU. Produk UU di Indonesia jumlahnya sangat banyak sekali, tak menutup kemungkinan masih akan ada lagi yang dibawa ke MK. Sejauh mana kesesuaian ribuan UU tersebut dengan Pancasila dan UUD NRI 1945, perlu ditelusuri lebih jauh. MPR RI sebagai bagian dari ‘penjaga konstitusi’ punya kepentingan memastikan nafas Pancasila dan UUD NRI 1945 selalu berada dalam setiap UU yang dihasilkan, sehingga tak memberatkan beban kinerja MK,” ujar Bamsoet saat menerima pengurus ILUNI UI 2019-2022, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Rabu (19/8/20).

Pengurus ILUNI UI 2019-2022 yang hadir antara lain, Ketua Umum Andre Rahadian, Bendahara Umum Ratu Febriana Erawati, Wakil Sekjen Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, Policy Center Rizky, Project Officer Devandra Maula Zakki, dan Ketua ILUNI Fakultas Hukum UI Ashoya Ratam.

Mantan Ketua DPR RI ini menjelaskan, dalam pertemuan tersebut Ketua ILUNI Fakultas Hukum UI Ashoya Ratam membahas seputar pandemi Covid-19 yang telah membuat dunia kerja terhambat. Salah satunya menimpa profesi pelayanan di bidang hukum.  Berbeda dengan pengacara yang bisa memberikan pelayanan konsultasi secara online, serta pelaksanaan proses peradilan melalui elektonik sebagaimana Surat Edaran Mahkamah Agung No.1 Tahun 2020, untuk profesi Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) belum tersentuh kemudahan melakukan pekerjaan secara online.

Alasannya, karena ketentuan kehadiran fisik dalam membacakan dan penandatanganan akta. Jika dilihat lebih jauh, ketentuan kehadiran fisik tersebut sebenarnya tak tertuang secara langsung dalam UU No. 12/2011 yang kemudian diubah dengan UU No.15/2019 tentang Jabatan Notaris.

Pasal 16 ayat 1 hurup m menyatakan bahwa Notaris wajib membacakan Akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit dua orang saksi, atau empat orang saksi khusus untuk pembuatan Akta wasiat di bawah tangan, dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris. Ketentuan keharusan hadir secara fisik terdapat dalam bagian Penjelasan Pasal 16 ayat 1 hurup m.

“Karena pandemi Covid-19 membuat kita harus menerapkan social and physical distancing, maka ketentuan harus hadir secara fisik yang terdapat dalam bagian Penjelasan, seyogyanya bisa juga ditafsirkan hadir secara virtual. Sedangkan tanda tangan basah, bisa diganti dengan tanda tangan elektronik yang tersertifikasi. Toh tak mengurangi esensinya, sebagaimana juga sudah diterapkan oleh profesi Notaris di berbagai negara seperti Australia,” tandas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, agar tak menjadi permasalahan hukum di kemudian hari terhadap produk hukum yang dihasilkan Notaris terhadap kehadiran virtual dan tanda tangan elektronik, Kementerian Hukum dan HAM perlu membuat peraturan tersendiri. Sebagaimana MA mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung No.1 Tahun 2020 tentang legalitas peradilan elektronik, maupun Kejaksaan Agung yang mengeluarkan Instruksi Jaksa Agung Nomor 5 Tahun 2020 tentang Kebijakan Pelaksanaan Tugas dan Penanganan Perkara Selama Masa Pencegahan Penyebaran COVID-19 Di Lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia.

“Dengan demikian Notaris dan PPAT tak perlu dilema menjalankan tugasnya. Mereka tetap bisa bekerja melayani kebutuhan hukum masyarakat di tengah pandemi Covid-19 tanpa perlu takut terpapar virus. Masyarakat serta Notaris dan PPAT sama-sama terlindungi,” pungkas Bamsoet. (*)

KEBANGKITAN NASIONAL menjadi Kebangkrutan Nasional

21 Mei 2020- saya kehabisan kata-kata untuk mengucapkan kalimat “Selamat Hari Kebangkitan Nasional” tanggal 20 Mei yang lalu. Pandemi covid-19 ini membuat banyak perubahan sekaligus kita jadi paham bahwa pemerintah kita belum siap mengambil keputusan yang belum pernah ada sebelumnya seperti negara tetangga Malaysia.

Sejak awal, pertama saya bingung kok leading nya BNPB bukan Kemenkes karena logika saya ini kan bencana nya soal penyakit bukan bencana alam, tapi ya sudahlah bukan perkara yang besar, lalu mengenai bantuan pun yang terlalu banyak syarat, kartu pra kerja dinilai bisa mengobati PHK masal menurut saya itu salah diagnosa penyakit dan salah resep obat. Saya tidak berkata bahwa kartu pra kerja tidak bagus, namun dengan membuat masyarakat harus membayar sekian untuk mendapatkan pelatihan tentu bukan cara yang tepat, karena kalau pemerintah yang mau membantu biar pemerintah donk yang harusnya bayarin biaya pelatihan itu. Toh sama saja menggunakan kuota juga. Terlalu banyak syarat untuk membantu rakyat, itu yang saya garis bawahi.

Kedua, bahan bakar kita yang tak kunjung turun dimana dinegara-negara lain sudah turun, artinya kita bisa menilai terlalu banyak nakhoda dalam kapal yang bernama migas Indonesia dari mulai soal penjualan di Pertamina, izin di SKK Migas, lalu ada BPH migas, belum lagi Kementerian ESDM, DPR RI komisi VII meski sebagai legislator namun tak sedikit yang bermain disini, dan semua itu menakhodai sehingga tidak dipimpin oleh satu kepala hanya Pertamina seperti dahulu kala dan itu dipelajari oleh Malaysia. Kita harus ingat bahwa Malaysia belajar dari kita soal ini, sampai dia membuat Petronas, saat ini stabil sekali urusan BBM di Malaysia karena kapal nya hanya dinakhodai oleh satu kepala, Petronas.

Sementara kita di Indonesia terlalu banyak sekali kepentingan sehingga cost nya yang dikeluarkan sungguh sangat banyak, sampai di pombensinnya saja banyak sekali pajak yang harus dikeluarkan, akhirnya wajar bbm kita tidak mungkin turun. Dan untuk merespon keinginan rakyat menurunkan bbm keluarlah statement bahwa diskon Program cashback Pertamina berlaku dari 27 April hingga 31 Mei 2020. Dengan menggunakan aplikasi MyPertamina baru bisa menikmati cashback 30% atau maksimal Rp 20.000 pada transaksi pertama setiap hari untuk pembelian Pertamax Series seperti Pertamax dan Pertamax Turbo serta Dex Series seperti Pertamina Dex dan Dexlite. Untuk mengikuti program tersebut, konsumen harus mendownload MyPertamina. Kemudian, mengisi saldo dan bertransaksi di SPBU Pertamina yang sudah terkoneksi dengan aplikasi. Karena program ini berbentuk cashback. Jadi, pengguna harus melakukan transaksi terlebih dahulu dan akan dilakukan verifikasi, kemudian cashback akan diterima konsumen melalui LinkAja.

Malah ternyata sahabat sy coba menjadi warga negara yang mempercayai pertamina isi donk bahan bakar tsb dan download my pertamina juga membayar pakai LinkAja tapi apa yang terjadi? Jonk… alias kena prank. Ga ada tuh cash back 30%. Terlampir dibawah ini:

Saya membaca syarat itu aja udah pusing, saya bukan gaptek namun saya menempatkan diri sebagai rakyat biasa. Saya menengok raykat di negara tetangga kalau mau bantu ya bantu saja ga usah syarat dan ketentuan. Kenapa juga tidak semua jenis bbm yang langsung diskon? Masuk SPBU isi bensin dan bayar sudah diskon lebih simple, rakyat happy dan pemerintah pun pasti dipuji. Dengan mendownload aplikasi meski gratis itu kan ada perputaran uang bagi si pemilik aplikasi ditambah membayar harus dari aplikasi linkAja sama itupun ada perputaran uang bagi pemilik aplikasi itu seperti ovo, gopay dan lain sebagainya. Kalau ovo, gopay, dan lainnya wajar berdagang dari awal memang berbisnis, namun ini lembaga negara yang seharusnya melayani rakyatnya disumpah atas nama rakyat Indonesia namun kenapa harus tetap “mengutamakan dagang” saat corona begini? Kalau tidak ada pandemi mau bikin program cash back 30% seperti paragraph diatas dalam rangka menyambut HUT Pertamina misalnya silahkan saja, gimik kan gak masalah. Wajar kok BUMN berdagang tapi moment nya kurang tepat bikin programnya, sekali lagi banyak syarat. Dan ternyata itu pun masih belum tentu benar… menyedihkan sekali. Bukankah disana sudah ada Komisaris yang paling dicintai rakyat sejagad karena paling revolusioner katanya memperjuangkan hak rakyat? Kok sekarang gak kedengeran ya marahin orang dalemnya kebijakan gak pro rakyat? Tapi ya sudah bukan kapasitas saya juga sih. In my humble opinion aja itu sih.

Kenapa ya Indonesia tidak mau mengambil keputusan dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dengan extreme yang membuat rakyat tidak menjerit? Yuk kita lihat bagaimana Malaysia memperlakukan pandemi covid-19 yang membuat Menteri Kesehatannya mendapat penghargaan dari PBB sebagai menteri terbaik yang menangani pandemi ini.

Malaysia memiliki program disebut Paket Stimulus Ekonomi Peduli yang diumumkan Perdana Menteri pada 27 Maret 2020. Paket tersebut berjumlah RM 250 miliar mewakili 17% dari PDB. Jumlah terbesar dalam sejarah keuangan negara. Karena Malaysia berpikir diperlukan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah mengambil langkah berani dan bertanggung jawab untuk melindungi rakyat, menjaga kesehatan rakyat, membantu dan mendukung bisnis termasuk UMKM, membangun dan memperkuat ekonomi negara.

Meski ada masalah-masalah yang tak mudah di awal, pemerintah Malaysia mengambil aksi cepat dan holistik, termasuk mengerahkan militer untuk membantu polisi menjaga roadblock sebagai bagian Perintah Kawalan Pergerakan, serta mengajak media dan figur-figur berpengaruh untuk mengajak publik patuh.Kuncinya adalah bisa terus berkomunikasi dengan publik dengan empati, jelas, dan konsisten.

Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin mengumumkan sebuah Perintah Kawalan Pergerakan ketimbang lockdown: ini awalnya berlangsung dari 18 – 31 Maret, tetapi telah diperpanjang hingga 14 April. Meski ada masalah-masalah seperti orang yang berpergian antar daerah atau masih berkerumun di pasar, tingkat kepatuhan dilaporkan meningkat signifikan hingga 95 persen.

Kebanyakan warga Malaysia tentunya cemas dengan adanya pergeseran besar dari rutinitas mereka, tetapi ini jelas bahwa banyak yang paham pentingnya berada di rumah saat ini. Harapannya ini terus berlanjut, dan laju infeksi menjadi stabil dan menurun. Hanya layanan-layanan esensial diizinkan untuk melanjutkan operasi pada saat ini. Ini termasuk supermarket, bank, toko obat, perlengkapan perlindungan diri, aktivitas e-commerce dan layanan logistik dan transportasi.

Pemerintah akan menyajikan fasilitas bantuan khusus untuk bisnis-bisnis kecil serta mengalokasikan 200 juta ringgit untuk fasilitas kredit mikro. Bank diminta menyajikan bantuan finansial dalam bentuk moratorium pembayaran utang, termasuk restrukturisasi dan menjadwal ulang pinjaman bagi bisnis dan individu yang terdampak. Pemerintah juga mendukung bisnis-bisnis melalui pendanaan dan fasilitas e-commerce untuk mendukung keberlanjutan bisnis.

Sementara untuk masyarakat berpenghasilan lebih rendah, pemerintah telah melakukan distribusi Bantuan Sara Hidup sebesar 200 ringgit dari Maret 2020 hingga Mei 2020, dan akan mendistribusikan tambahan 100 ringgit pada bulan Mei bagi yang layak mendapatkannya.

Pemerintah juga mengizinkan warga berusia 55 tahun ke bawah untuk mengambil 500 ringgit dari Akun 2 pada dana tabungan pensiun dari Kumpulan Uang Simpanan Pekerja demi membeli persediaan pokok selama 12 bulan. Pemerintah juga menyediakan fasilitas dan bantuan dalam bentuk pembayaran perawatan anak, utilitas, dan pembayaran utang dan sebagainya. Hal itu adalah langkah-langkah baik tetapi lebih banyak yang harus dilakukan untuk pekerja di sektor informal serta pekerja gig dan freelance yang memiliki pemasukan yang lebih tak stabil atau bergantung pada pendapatan harian. Mereka akan paling terdampak oleh Perintah Kawalan Pergerakan.

Pemerintah Malaysia membuat perumpamaan tokoh dalam kisah prihatin keluarga Makcik Kiah sebagai perumpamaan nilai manfaat uang yang akan diterima keluarga Makcik Kiah baik bantuan (subsidi) dari pemerintah dan pinjamannya dengan tag line No One Left Behind.

Rinciannya adalah bantuan dari pemerintah senilai RM 4,200 dan peminjaman RM 4,464 jadi total satu keluarga mendapat RM 8,664 untuk memenuhi hidupnya selama pandemi corona ini berlangsung, meski untuk pinjaman sifatnya pilihan boleh diambil boleh tidak. Bahkan ada pemberian bantuan tunai bagi orang yang bujang alias single sebesar RM 800 kepada 3 juta orang yang berusia 21 tahun ketas dan berpendapatan bulanannya RM 2000 kebawah. RM 500 dibayar pada bulan April dan sisanya RM 300 pada bulan Mei. Sementara ada juga bantuan bagi orang yang bujang alias single sebesar RM 500 kepada 400.000 orang yang berusia 21 tahun ketas dan berpendapatan bulanannya diatas RM 2000 sampai RM 4000. RM 250 dibayar pada bulan April dan sisanya RM 250 pada bulan Mei. Bantuan tunai untuk pelajar sebesar RM 200, untuk satu rumah dengan kondisi pendapatan kurang dari RM 4000 maka mendapatkan bantuan tunai sebesar RM 1600/rumah, dan yang keluarganya pendapatannya RM 4000 – 8000 mendapatkan bantuan tunai RM 1000/rumah. Untuk PNS dan pensiunan dengan kelas 56 kebawah mendapatkan bantuan tunai RM 500, supir online mendapatka bantuan tunai RM 500, dan bantuan keseimbangan hidup dipercepat. Dan untuk pekerja frontliners nih ya, Dokter dan perawat dapat bantuan tunai sebesar RM 600 perbulan, polisi, tentara, imigrasi, dan bea cukai,sebesar RM 200 perbulan.

Jadi berdasarkan rincian diatas artinya pemerintah Malaysia memberikan stimulus kepada pengusaha yang mengalami penurunan bisnis sebesar 50% sejak 1 Januari 2020. Kemudian, pemerintah Malaysia juga melarang perusahaan untuk memotong gaji karyawan dengan penghasilan di bawah RM 4.000 per bulan. Sementara yang terjadi Indonesia? PHK masal terjadi dimana-mana, menurut LIPI badan Litbang Ketenaga kerjaan Kementerian Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI melakukan survei online sebanyak 25 juta pekerja terancam kehilangan pekerjaan terutama di sektor bebas. Sejak 8 Mei 2020 menurut APINDO sudah ada 7 juta orang yang di PHK. Indonesia sangat banyak diisi oleh kalangan menengah kebawah sehingga wajar jika saya berkata Kebangkitan Nasional 2020 ini menjadi Kebangkrutan Nasional, karena Pemerintah seolah mencekik rakyatnya dengan tuntutan harus dirumah saja tanpa bantuan tunai, pengusaha dan majikan harus bayar THR tapi gak dikasih stimulus ekonomi alias bantuan tunai, bahkan Menaker bisa berata kena sanksi bagi yang tidak memberikan THR. Ya Allah miris sekali melihat cara kerja dengan negara tetangga.

Pada tanggal 6 April hanya berselang 10 hari Perdana Menteri Malaysia mengumumkan lagi kenaikan tambahan stimulus ekonomi bagi rakyat sebesar RM 10 bilion dari semula RM 250 bilion. Sungguh saya menonton secara live tercengang dengan cara kerja good corporate governancenya, sehingga rakyat percaya pada pemerintah karena nilai-nilai dari GCG benar-benar terimplementasi dengan baik. Semua ini berlaku bagi semua kalangan dan pelaku usaha, dari yang subsidi upah RM 7,9 bilion menjadi RM 13,8 bilion. Pengusaha yang karyawannya misal 2 orang gaji RM 4000 dapat subsidi RM 18.000 dan berhak mendapatkan pinjaman RM 50.000, lalu ada subsidi upah untuk perusahaan yang memiliki karyawan 76-200 orang senilai RM 800 setiap pekerja, dan RM 1200 per orang untuk perusahaan tidak lebih dari 76 orang karyawan. Majikan yang terdaftar dengan SSM (The Companies Commision of Malaysia), PBT (otoritas lokal), Perkeso (departemen keuangan jaminan sosial) sebelum 1 januari 2020 mendapatkan bantuan selama 3 bulan untuk dapat menggaji ART nya mereka karena pemerintah paham bahwa majikannya sebagai mesin pencari uang kesulitan mencari rezeki selama pandemi ini, sehingga itulah bentuk emphaty dari pemerintah Malaysia. Penanggauhan bayaran pinjaman apapun selama 6 bulan dan saat live Perdana Menteri mengucapkan terima kasih kepada semua bank yang terlibat memberikan kemudahan ini.

Pemerintah Malaysia dan perusahaan telekomunikasi memberikan layanan data internet gratis kepada semua warga terhitung mulai 1 April 2020. Paket data internet gratis ini diberikan sebagai dampak diberlakukannya lockdown atau pembatasan pergerakan (MCO). Pemerintah menganggarkan dana RM 600juta dari Paket Stimulus Keprihatinan Rakyat untuk inisiatif internet gratis ini. Bahkan ada tambahan anggaran RM 400juta yang dialokasikan untuk meningkatkan jangkauan jaringan internet sehingga bisa mendukung aktivitas warga yang beralih ke online. Sementara di Indonesia semakin sulit akses internet, sinyal masiih saja tidak bagus bagaimana bisa kerja dari rumah? Banyak sekali tuntutan harus poduktif kepada masyarakat namun dengan modal sendiri itu sangat menyedihkan bagi Indonesia yang kaya raya.

Tidak hanya itu, pemerintah Malaysia juga menganggarkan 530 juta ringgit sehingga warga bisa mendapat potongan 15 sampai 50 persen biaya listrik dengan maksimum penggunaan 600 kilowatt per bulan. Rinciannya, penggunaan di bawah 200 kilo Watt (kW) akan menerima diskon 50%, penggunaan 201 kW-300 kW akan menerima diskon 25% dan penggunaan 301 kW-600 kW akan menerima diskon 15%. Ini sangat berbeda bagi Indonesia yang justru kemarin ramai-ramai netizen berteriak bayar listrik naik, mau kalangan apapun sih ya bagi saya semua sedang krisis keuangan. Sehingga diharapkan Pemerintah Indonesia seharusnya dapat membangkitkan semangat hidup rakyatnya dengan memberikan bantuan kepada warga negara yang memilihnya melalui sistem politik dengan bantuan tunai dan kemudahakan akses TANPA TAPI alias syarat harus download ini itu, mendaftar kesini kesitu, bukankah selama ini kita ada BPS, ada disdukcapil, ada kemenakertrans, pajak, ojk, dan ada kepala daerah yang memiliki data seharusnya masing-masing orang penghasilannya berapa di ATM masing-masing warganya.

Kalau cara penanganan pandemi covid-19 kita seperti Malaysia maka wajar jika polisi menangkap pelanggar dan dibawa ke kantor polisi untuk diproses pembayaran denda. Kita? Sedih rasanya sekali lagi, karena saya sangat mendukung untuk menghentikan penyebaran virus ini dengan hanya dirumah saja, namun saya tidak bisa tutup mata bahwa karena Pemerintah kita tidak memberikan stimulus kepada rakyatnya secara merata untuk tetap dirumah saja dan bisa membayar segala cicilan mereka entah mobil, rumah, motor, asuransi, listrik, air, makan, beli kebutuhan sehari-hari seperti yang punya anak single parents seperti saya susu, pampers, makanan bayi, dan lain sebagainya. Sehingga saya tidak bisa menyalahkan rakyat 100% untuk tetap dirumah saja tanpa mencari nafkah untuk memenuhi kebuhtuhan hidupnya sehari-hari. Melihat polisi berdebat dengan warga dari cara duduk dimobil dan sebagainya rasanya dilema jadi saya mohon lebih manusiawi juga sih para aparat kita, percayalah bahwa tidak ada satupun orang yang mau kena penyakit virus covid-19 ini.

Percayalah bahwa kami amat sangat mencintai Indonesia lebih dari apapun, oleh karena itu kami berani bersuara ini bukan soal personal, bukan soal like and dislike ini soal SISTEM. Karena saya meyakini jika SISTEM DIATAS BENAR MAKA TURUN KEBAWAH PUN AKAN TEPAT SASARAN. Sama dengan air teko isinya kopi maka yang keluar pasti kopi tidak mungkin berubah menjadi teh manis. Jadi jika diatas airnya bersih maka sampai ke bawah airnya pasti jernih, itu saja cara berpikirnya. Artinya kalau sistem sudah benar maka SIAPAPUN yang memimpin Bangsa ini rakyat akan tetap sejahtera, bisa makan perut kenyang, semua menempun pendidikan sekolah sampai perguruan tinggi, dan semua memiliki pekerjaan untuk menghasilkan uang. Pertanyaannya siapa yang berani memulai untuk mengubah sistem ini yang sangat rumit dan panjang seperti benang kusut, karena pasti akan terjadi kegaduhan yang besar jika mengubah sistem, pemimpin seperti itu pasti harus memiliki mental yang kuat dan pribadi yang matang secara emosional, cara berpikir, dan cara bersikap.

Semoga Kebangkitan Nasional menjadi Kebangkrutan Nasional ini hanya terjadi di tahun 2020 ini saja dan menjadi Kebangkitan Nasional yang sesungguhnya dengan bangkitnya perekonomian rakyat Indonesia di tahun yang akan datang.

 

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar

D3 FISIP Administrasi Perkantoran & Sekretaris Universitas Indonesia

S1 FISIP Administrasi Negara Universitas Indonesia

S2 FISIP Kesejahteraan Sosial & Otonomi Daerah Universitas Indonesia

CEO ReThinkbyAWR

Some Woman feels unsafe at Home

“Please reach out to your friends, keep your key contacts with you, and check if services are available near you to keep everyone safe from the coronavirus and domestic violence,” says Sia, an advocate, social worker and a survivor of domestic violence. For most people in her town, she is a “big sister and friend” who listens and cares for others. With 4 billion people around the world sheltering at home because of the #COVID19 pandemic, many women are trapped in isolation with abusive partners, unable to access life-saving resources and support systems. In some countries, cases of domestic violence have risen by 30%. Sia’s work is needed now more than ever.

Seperti yg saya alami, sebagai single parents yang belum memiliki fix income dan belum memiliki support system yg memadai terhadap akses kebutuhan hidup sehari2 dimana kaki dikepala dan kepala dikaki tentu hal ini menjadi sangat dilematis saat menghadapi pandemi covid-19 ini. Support system bagi single parents seperti kami sungguh tidak ada; pertama dari pemerintah, kedua tidak memiliki suami yg menanggung hidup kami, ketiga ternyata pintar saja gak cukup kalau karier kita dihadang oleh pihak tertentu sehingga saat itu karier terhalang dan saat ini mencari kerja sulit wong PHK dimana2.

Karena kita di Indonesia secara sistem belum memiliki sistem yang otomatis bisa menjangkau kebutuhan masyarakat seperti saya. Orang bilang saya gak butuh bantuan karena pny rumah dan mobil dan “terlihat” mampu. Sementara di Malaysia semua kalangan dapat bantuan karena mereka tidak melihat apa yang terlihat dari luar saja. Pemerintah kita gak berpikir bahwa semua itu bisa saja kredit, atau bukan miliknya lalu soal sistem yang sama sekali tidak mensupport pekerja sosial atau harian atau by project seperti banyak orang itu juga tidak pemerintah pikirkan. Teman saya cerita karena ia kerja di Pemda DKI yang awal Tahun baru selesai tender untuk periklanan lalu 3 bulan kemudian ada covid ini pemenang tender bunuh diri menabrakan diri di kereta karena ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk DP semua vendor termasuk artis sementara ia ga tau bagaimana kelanjutam hidupnya.

Saya misalnya, bagaimana setiap hari sy berpikir beli pampers 2 susu 2 karena memiliki 2 baby usia 1 tahun dan 3 tahun dan kebutuhan itu menjadi dasar kebutuhannya belum makannya, cemilannya. Belum galon seminggu 100.000, token listrik yg ga ada discount sm sekali malaysia disc 25% selama pandemi ini loh dan lain2nya. Sy harus berusaha kemana2 untuk meneruskan hidup demi keluarga yg saya hidupi sendiri termasuk menggaji pembantu yang 2 bulan ini belum saya gaji. Cant u imagine? Sy masih mau cari uang yg halal dengan berusaha kesana kesini.

Saya paham akhirnya kenapa ada orang yang akhirnya berbuat kejahatan meski awalnya tidak ingin. Itu karena keadaan yang membuat sulit dan sabar sudah tidak bisa lagi karena anak2 dan keluarganya harus makan belum tagihan pembayaran ini dan itu. Oleh karena itu dibutuhkan sangat besar kekuatan iman dan takwa dalam menghadapi pandemi covid-19 ini bagi kami yang tidak memiliki fix income seperti yang lainnya. Bahkan kami berusaha keras meraih income dengan cara halal dan menjunjung harga diri, namun kadang bagi orang2 tertentu hal itu tidak cukup sampai kita mau merendahkan diri kita. Dan itu gak mungkin saya lakukan.

Semoga bangsa ini akan hadir seorang pemimpin yang mencerahkan rakyatnya dan menjadi solusi dari setiap permasalahan di masyarakat yang tidak pernah terungkap. Pemimpin yang bukan hanya mau mendengar tapi menjadikan semua tempat sebagai tempat pembelajaran. Karena begitu banyak orang pintar yang tidak belajar dari kepintarannya dan banyak orang bodoh yang tidak menjadikan kebodohannya sebagai pembelajaran.

Semoga Tuhan segera memudahkan segalanya… menguatkan semua yang lemah… terutama menguatkan iman dan taqwa bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya kesulitan.

Hari Kebebasan Pers International | World Press Freedom Day on May,3rd

Hari Kebebasan Pers International 3 May 2020 ini bertemakan “journalism without fear or favour” bagi saya akses terhadap informasi adalah hak yang sangat mendasar.

Apa bahayanya tidak memiliki media independen?

Jika Anda memiliki media yang tidak independen, bahayanya satu dimensi. Jadi, Anda memiliki media yang hanya berbicara kepada pemilih tertentu tentang siapa media itu bergantung. “Jika Anda akan memiliki media yang berbicara dengan suara yang sama, suara orang-orang yang memiliki dan mengendalikannya, yang merusak keragaman dan pluralitas media dan jika media itu sekali yang dirusak, itu juga merusak demokrasi itu sendiri.” Sebuah media independen penting karena berbagai alasan, tetapi paling tidak, fakta bahwa media dapat mewakili seluruh jajaran opini dan sudut pandang dalam masyarakat tertentu.

Bagaimana warga melindungi media?

“Saya pikir warga negara perlu meminta pertanggungjawaban media melalui umpan balik (feed back) tetapi juga memanggil jurnalis. Hal lain adalah feed back tentang warga negara waktu mereka yang mampu untuk mendukung inisiatif media kecil. Misalnya, sekelompok organisasi dan inisiatif yang dilakukan oleh Daily Maverick (Daily Maverick adalah surat kabar harian Afrika Selatan yang didirikan pada 2009). Mereka yang mampu berkontribusi untuk mendukung dan mempertahankan jurnalisme independen, mereka harus melakukan itu. Semakin banyak orang yang bisa melakukan itu, semakin baik. Kita menyadari bahwa perusahaan2 media besar yang ada di dalamnya untuk mendapatkan uang, jadi jika Anda dapat mengumpulkan seluruh warga negara / masyarakat untuk mendukung jurnalisme yang kritis dan berkualitas, itu juga baik untuk media dan demokrasi. ”

Seperti apa media independen terlihat?

“Tidak ada satu pun definisi yang menjelaskan segalanya. Tetapi, dalam pandangan saya, media independen adalah media yang terikat pada warga negara, bukan media yang terikat pada kekuasaan. Didanai dengan cukup baik sehingga dalam operasinya sehari-hari tidak perlu melihat ke belakang untuk melihat bahwa beritanya tidak menyinggung satu atau sejumlah kekuatan lainnya. Dengan kata lain, itu terdiri dari jurnalis dan warga yang didorong oleh keinginan untuk melaporkan cerita atau menceritakan kisah tanpa didorong oleh berbagai kekuatan yg kuat. Dengan kata lain, independensi bagi saya berbicara kepada jenis otonomi dari tekanan langsung dan tidak langsung yang ditimbulkan oleh hierarki perusahaan, oleh politisi dan oleh kelompok-kelompok seksi lainnya.”

Bagaimana jurnalis membangun dan membangun kembali kepercayaan?

“Saya pikir wartawan harus sebisa mungkin, bahkan dalam konteks menurunnya sumber daya, mencoba untuk pergi ke sana, keluar dari zona yang nyaman mereka, menjangkau masyarakat miskin, terutama masyarakat yang terpinggirkan yang merupakan mayoritas. Pergilah ke sana dan lakukan kisah-kisah yang menyangkut orang biasa. Ini adalah kekeliruan bahwa kisah-kisah itu tidak laku. Mereka menjual jika ada penumpukan naratif yang konsisten”

“Masyarakat yang terus terpinggirkan berubah menjadi kekerasan dan bahwa kekerasan akan mengarah suatu hari, cepat atau lambat menjadi boomerang. Dengan kata lain, itu demi kepentingan pemerintah tetapi juga bisnis-bisnis besar yang hadir. Jadi, jika kisah-kisah itu secara konsisten diceritakan oleh jurnalis yang keluar dari zona nyaman mereka untuk bercerita di masyarakat, itu menjadi baik bukan hanya untuk kewarganegaraan tetapi juga untuk bisnis karena Anda berbicara tentang stabilitas sosial.”

“Jadi saya pikir jurnalis harus membangun kembali kepercayaan itu dengan pergi ke komunitas.”

“Dengan kata lain, titik awalnya adalah keluar dari zona nyaman mereka dan berbicara kepada masyarakat yang terpinggirkan karena itu adalah demokrasi. Para elit sudah dimanjakan dan memiliki akses ke hampir semua hal, tetapi saya pikir itu harus menjadi kepentingan setiap jurnalis untuk ingin memperjuangkan komunitas demokratis yang lebih adil. Bagi saya, itu harus menjadi titik awal dan segala sesuatu akan kembali ke asalnya. ”

Oleh karena itu ReThinkbyAWR menggukan skema pentahelix setiap melakukan program yaitu dengan melibatkan 5 pihak yang berkepentingan seperti Pemerintah, private sector, community, akademisi, dan media massa demi tercapainya percepatan akses keterbukaan informasi kepada publik yang terus dituntut kedepannya oleh masyarakat.

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar
Open Government Partnership ReThinkbyAWR

Petani Sawit kesulitan akses Pangan saat pandemi covid-19

Saat ini penderita virus corona atau covid-19 di Indonesia semakin bertambah. Jumlah pasien positif terinfeksi virus corona di Tanah Air secara kumulatif mencapai 9.771 kasus per Rabu (29/4/2020). Sebanyak 784 orang meninggal dunia dan 1.391 orang sembuh.

Di tengah pandemi virus corona ini Indonesia juga menderita persoalan klasik yakni kenaikan harga pangan saat bulan Ramadhan. Selain itu, negara Indonesia juga memiliki persoalan tambahan yakni daya beli masyarakat melemah. Jadi, di satu sisi harga pangan mengalami peningkatan dan di sisi lain daya beli konsumen mengalami pelemahan.

Kondisi demikian juga dialami para petani sawit di Tanah Air. Misalnya, beberapa pabrik kelapa sawit yang tutup membuat penyerapan panen para petani berkurang. Hal ini berimbas pada penurunan pendapatan para petani sawit.

Jika ditelisik lebih dalam, penyebab pabrik kelapa sawit tutup karena beberapa negara tujuan ekspor komoditas ini menerapkan lockdown. Misalnya, negara tujuan ekspor India yang melakukan lockdown sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran virus corona di negara tersebut.

Hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan terus terjadi. Kita berharap pemerintah Indonesia bersedia membeli CPO dari para petani agar roda perekonomian bisa terus berjalan. Memang, saat ini komitmen pemerintah untuk menyerap stok CPO para petani dalam negeri tengah diuji. Seharusnya pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab moral yang besar terhadap para petani plasma yang tidak mampu membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

Perlu diingat, para petani sawit butuh mata pencaharian untuk keperluan makan sehari-hari. Karena saat ini petani plasma sedang berjuang sendiri menjual hasil panen mereka. Karena petani plasma ini hanya mengandalkan sawit sebagai sumber kehidupan. Jangan sampai petani plasma akhirnya berpikir lebih baik mati karena corona daripada mati karena kelaparan.

Di beberapa daerah yang tanahnya masih bisa dimanfaatkan sebagai lahan untuk menanam tanaman pangan, paling tidak para petani masih bisa makan dari hasil panen sendiri berupa beras dan sayur mayur.

Padahal, pada era pemerintahan Presiden RI ke-2 Soeharto para petani dan petani plasma sawit disediakan lahan untuk menanam tanaman pangan sehingga akses terhadap kebutuhan pokok tersebut tersedia. Program tahun 1980-an itu misalnya kebun plasma 2 hektare dan juga lahan pangan 0,75 hektare.

Tetapi, saat ini kalau kita berkunjung ke desa-desa transmigran sawit semua sudah beralih menjadi lahan sawit sehingga saat terjadi pandemi seperti sekarang maka para petani sawit terancam kelaparan karena terpaksa harus mencari uang lagi untuk membeli kebutuhan pangan.

Maka sebaiknya hal ini menjadi perhatian serius juga bagi pemerintah pusat dan daerah agar mewajibkan adanya tanaman pangan di sekitar perkebunan kelapa sawit misal hitungannya per 2 hektare dan 0,75 hektare untuk tanaman pangan.

Karena pandemi seperti ini mungkin akan terjadi lagi di masa mendatang. Sehingga jika di masa depan terjadi krisis seperti sekarang maka tidak akan terlalu berdampak signifikan karena rakyat di desa masih bisa makan dari kebunnya sendiri.

Tag: SawitKelapa Sawit

Penulis: Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, Open Governement Partnership ReThinkbyAWR

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Antara/Iggoy el Fitra

https://m.wartaekonomi.co.id/berita283503/petani-sawit-kesulitan-akses-pangan-saat-pandemi-covid-19

Peran Perempuan Dalam Keberlanjutan Kelapa Sawit

Dalam menyambut Hari Kartini Nasional ini saya ingin membahas mengenai peran Perempuan dalam keberlanjutan kelapa sawit Nasional, karena tidak jarang ditemukan petani di kelapa sawit adalah perempuan. Dan karena penulispun seorang perempuan, sebagai sesama perempuan tentu saja harus saling menguatkan, mendukung, dan memperjuangkan hak-hak perempuan disamping melaksanakan kewajibannya. Berbagai inisiatif untuk meningkatkan keberlanjutan (sustainability) sektor sawit yang belakangan muncul, seperti RSPO dan ISPO, mulai ikut memberikan perhatian terhadap aspek gender. Berbagai penelitian seperti yang dilakukan oleh Institut Riset Sosial dan Ekonomi dan Program Manajemen Pembangunan Sosial, Universitas Indonesia dengan berdasarkan analisis pada studi pustaka dan informasi lapangan dari Riau, Jambi, Sumatra Utara, dan Kalimantan Timur menunjukkan upaya membangun kesetaraan gender dalam sawit berkelanjutan belum terjadi sepenuhnya karena keterbatasan dalam mengoperasionalkan perspektif gender dalam standar sustainability. Isu gender yang dicakup masih sebatas upaya perlindungan perempuan terhadap risiko pekerjaan dalam sektor sawit, yang masih sebatas paradigma women in development. Pengembangan yang seharusnya dilakukan adalah mengaplikasikan paradigma gender and development untuk mencapai relasi yang setara antara laki-laki dan perempuan serta mengatasi berbagai hambatan struktural yang memengaruhinya.

Hal yang kurang lebih menganggap bahwa masih ada ketimpangan dan ketidak adilan pada pekerja perempuan adalah seperti yang disampaikan oleh Koalisi Buruh Sawit (KBS) bahwa besarnya kekuasaan perkebunan, lemahnya pengawasan negara serta kebijakan ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada buruh semakin memposisikan buruh perkebunan sawit tidak berdaya. Korban utama dari sistem kerja eksploitatif di perkebunan sawit adalah perempuan. Koalisi Buruh Sawit mencatat sebagian besar dari 18 juta buruh perkebunan sawit merupakan buruh prekariat atau dikenal dengan nama Buruh Harian Lepas (BHL), di mana sebagian besar BHL adalah perempuan. Sering kali perempuan yang bekerja di perkebunan sawit dianggap tidak ada, padahal proses produksi sangat dipengaruhi oleh keberadaan perempuan.

Perempuan mengerjakan 15 dari 16 jenis pekerjaan di perkebunan sawit, termasuk mengutip berondolan dan mengangkat buah ke TPH, namun sebagian besar buruh perempuan bekerja tanpa mendapatkan hak-hak sebagai buruh, kepastian kerja, dokumentasi ikatan kerja, upah minim maupun perlindungan kesehatan memadai. Temuan KBS di perkebunan sawit di mana perempuan menjadi BHL dengan masa kerja lebih dari dua tahun, bahkan ada yang sampai belasan tahun. Buruh perempuan dipekerjakan untuk melakukan penyemprotan, pemupukan, pembersihan areal, mengutip berondolan, dan pekerjaan lainnya yang ironisnya tidak dianggap sebagai pekerjaan inti di perkebunan sawit. KBS mencatat praktik mempekerjakan perempuan tanpa hak-hak permanen terjadi di perkebunan sawit di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi CEDAW (Convention of  All Forms of Discrimination Against Women)  melalui Undang-undang No.7 tahun 1984 tentang  Pengesahan Konvensi  mengenai Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, namun, hingga saat ini buruh perempuan perkebunan masih saja mengalami diskriminasi. Hak-hak yang  mesti diberikan sama sekali tidak diterima. Berangkat dari kondisi objektif buruh perkebunan sawit saat ini, dapat dikatakan bahwa komitmen pemerintah dan korporasi dalam perlindungan buruh perkebunan sawit, khususnya buruh perempuan masih rendah.

Framework women in development (WID) adalah salah satu acuan yang paling banyak digunakan dalam proyek-proyek pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan perempuan. WID merupakan buah dari pemikiran feminis liberal yang muncul pada awal 1970-an. Secara historis, elemen utama argumen feminis liberal adalah klaim agar terwujudnya kesetaraan gender (Ritzer, 2014), yaitu adanya kesempatan dan hak yang sama bagi setiap individu (Fakih, 1996). Dalam implementasinya, berbagai program pembangunan berupaya mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi perempuan, termasuk dalam sektor pertanian, sektor yang diskriminatifterhadap perempuan, tetapi perempuan banyak terlibat di dalamnya. Dalam perjalanannya, pada pertengahan 1980-an, gender and development (GAD) muncul untuk menggantikan WID. Penggunaan kata “gender” dalam GAD dinilai lebih baik daripada kata “perempuan” dalam WID karena gender berfokuspada relasi sosial yang dibangun antara laki-laki dan perempuan(Kabeer, 2000). Upaya mewujudkan kesetaraan gender yang tidak memperhatikan relasi sosial laki-laki dan perempuan tidak akanmampu menghasilkan transformasi gender sebagaimana yangdiharapkan atau, dengan bahasa lain, paradigma WID haruslahditinggalkan. Sebagaimana yang diserukan Cornwall (1997),praktik dan prosedur pembangunan dalam upaya mencapai kesetaraan gender harus diubah, yaitu dengan tidak hanya berfokus pada perempuan, tetapi juga memperhatikan laki-laki.

Telah terjadi perubahan sikap pada laki-laki, yaitu laki-laki bersedia terlibat dalam program untuk mewujudkan kesetaraan gender, hal yang dulu dianggap tabu dan “tidak laki-laki” (Barker & Schulte, 2010). Pendekatan GAD, yang memahami kompleksitas gender sebagai konstruksi sosial, memberikan perhatian terhadap relasi gender. Distribusi sumber daya antaralaki-laki dan perempuan disebut juga sebagai pendekatan gender transformatif. Pendekatan gender transformatif menekankan pentingnya partisipasi laki-laki dalam mencapai kesetaraangender (Risman & Martin dalam Cole, Kantor, Sarapura, Rajaratnam, 2015).

Dari paparan tersebut, untuk mewujudkan perubahan transformatif harus menggunakan pendekatan gender transformatif. Namun, upaya membangun kesetaraan gender dalam berbagai program pembangunan masih sangat berfokuspada perempuan (Cornwall, 2000). Program-program

pembangunan yang memberikan perhatian terhadap isu gender masih saja menggunakan paradigma

WID, yaitu membangun kapasitas perempuan dengan memberikan pelatihan, seperti budi daya, pengolahan, pemasaran,menyediakan layanan kredit mikro yang bisa diakses perempuan,membangun kesadaran gender perempuan, dan upaya sejenislainnya (Leach & Sitaram, 2002; Haugh & Talwar, 2014). Studi Phillips (2015) menemukan bahwa meningkatkan aksesperempuan terhadap pinjaman saja tidak cukup jika hambatan sosial budaya dan politik juga tidak diatasi. Hal yang sama berlaku untuk berbagai intervensi gender lain, yaitu semua upaya tersebut tidak cukup jika struktur yang menghambat tidak diintervensi.

RSPO memiliki delapan prinsip dan kriteria (P & K RSPO), dengan komponen gender berada pada Prinsip 6, yaitu bertanggung jawab terhadap para karyawan, individu, serta masyarakat yang terkena dampak perkebunan dan pabrik pengolahan. Sementara itu, ISPO memiliki tujuh P&K, dengankomponen gender terdapat pada Prinsip 4, yaitu bertanggungjawab terhadap pekerja. Uraian lebih lanjut mengenai komponengender dalam P & K RSPO dan ISPO bisa dilihat pada tabel dibawah ini

Standar-standar yang dikembangkan menganggap aspek gender masih dianggap cukup terwakili dengan membahas aspek keadilan sosial secara umum. Untuk RSPO, kurangnyapembahasan aspek gender sudah mulai disentuh sejak 2008/2009 (RSPO, 2009). Baru pada 2014, roundtable RSPO membahas lebih spesifik dan mendalam mengenai aspek gender. Dalamroundtable RSPO di Kuala Lumpur pada 2014, salah satu pembahasan penting adalah mengenai bagaimana audit gender dalam prinsip dan kriteria harus ditingkatkan melalui audit sosial(RSPO,2014). 

Perempuan mempunyai keterlibatan yang cukup banyak dalam produksi kelapa sawit. Oleh karena itu, kesetaraan gender merupakan bagian yang tidak bisa diabaikan dalam isu sawit berkelanjutan. Kesetaraan gender adalah bagian yang takterpisahkan dari aspek keadilan sosial yang hendak dicapai dalamisu sawit berkelanjutan. Sektor sawit mengakui adanya diskriminasi gender, yaitu berbagai bentuk ketidakadilan yangdihadapi perempuan. Melalui inisiatif sawit berkelanjutan, berbagai upaya telah dilakukan untuk memastikan adanya kesetaraan gender pada sektor sawit, yaitu dengan memasukkan klausa gender pada prinsip dan kriteria sawit berkelanjutan, yaitu Prinsip 6: “Bertanggung jawab terhadap pekerja, individu, dan komunitas dari kebun dan pabrik,” serta Prinsip 5, “Bertanggung jawab terhadap pekerja.” Namun, upaya membangun kesetaraan gender dalam isu sawit berkelanjutan belum terjadi sepenuhnya karena keterbatasan dalam mengoperasionalkan perspektif genderke dalam standar keberlanjutan (sustainability). Kesetaraan gender yang dicakup masih sebatas upaya perlindungan kaum perempuan terhadap risiko pekerjaan dalam sektor sawit dan hanya mencakup paradigma women in development. Cakupan yang sebatas paradigma women in development menjadikan perhatian terhadap ke setaraan gender terbatas karena belum memperhatikan relasi gender laki-laki dan perempuan sertahambatan struktural yang memengaruhinya.

Oleh karenanya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah ke depan khususnya dalam melahirkan kebijakan yang berdimensi perspektif gender. Pengarusutamaan gender dalam kebijakan pemerintah khususnya di sektor pertanian dan perkebunan ditujukan agar pembangunan pertanian maupun perkebunan diarahkan kepada pembangunan yang berkelanjutan, dimana aspek sosial menjadi salah satu perhatian yang juga berkaitan dengan konsep perspektif gender. Sehingga hasil pembangunan tidak hanya memberikan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga dari aspek sosial memberikan maanfaat bagi petani perempuan maupun laki-laki. SELAMAT HARI KARTINI !!!

21 April 2020

Hormat saya,

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar

Open Governement Partnership ReThinkbyAWR

https://www.wartaekonomi.co.id/read282139/peran-perempuan-dalam-keberlanjutan-industri-sawit