Ketika Bertumbuh Terasa Seperti Kehilangan

Mungkin kamu tidak sedang kehilangan siapa pun. Kamu hanya sedang menjadi versi dirimu yang baru.

Ada satu fase dalam kehidupan yang sering kali membuat seseorang merasa bingung.

Circle pertemanan mulai mengecil.

Obrolan yang dulu terasa menyenangkan kini terasa dangkal.

Hubungan yang dulu sangat dekat perlahan menjadi asing.

Tempat-tempat yang dulu membuatmu nyaman kini terasa sesak.

Lalu muncul pertanyaan yang hampir selalu sama.

“Apa ada yang salah denganku?”

Padahal…

belum tentu ada yang salah.

Mungkin kamu hanya sedang bertumbuh.


Setiap kenaikan level selalu meminta kita melepaskan sesuatu.

Alam mengajarkan hal yang sama.

Seekor ular tidak bisa tumbuh tanpa berganti kulit.

Pohon tidak akan memiliki daun baru jika tidak berani menggugurkan daun yang lama.

Seekor kupu-kupu tidak pernah bisa kembali menjadi ulat.

Pertumbuhan selalu disertai kehilangan.

Bukan karena hidup sedang menghukummu.

Tetapi karena sesuatu yang lama sudah tidak lagi cukup untuk membawa dirimu menuju fase berikutnya.


Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai identity shift.

Identity shift adalah perubahan cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Bukan sekadar berubah penampilan.

Bukan pula sekadar naik jabatan.

Tetapi berubah dari dalam.

Nilai-nilai hidup mulai bergeser.

Prioritas berubah.

Standar terhadap diri sendiri meningkat.

Cara memilih lingkungan menjadi berbeda.

Yang dulu bisa kamu toleransi, sekarang mulai terasa melelahkan.

Yang dulu kamu anggap penting, sekarang ternyata tidak lagi memiliki makna.

Dan itu adalah bagian yang sangat normal dari proses pendewasaan.


Mengapa rasanya justru sepi?

Karena lingkungan sering kali berubah lebih lambat dibanding diri kita.

Di sinilah muncul apa yang dalam psikologi disebut cognitive dissonance.

Yaitu keadaan ketika realitas di luar belum sesuai dengan identitas baru yang sedang terbentuk di dalam diri.

Akibatnya…

Kamu masih berada di lingkungan lama.

Namun cara berpikirmu sudah berbeda.

Kamu masih bersama orang-orang yang sama.

Tetapi pembicaraan mereka tidak lagi memberi energi.

Kamu mulai merasa sendirian.

Padahal sebenarnya kamu tidak sendirian.

Kamu hanya belum menemukan lingkungan yang selaras dengan versi dirimu sekarang.


Kita sering diajarkan untuk tetap sama.

Sejak kecil kita mendengar kalimat seperti:

“Jangan berubah ya.”

“Nanti dibilang sombong.”

“Ingat teman lama.”

“Jangan terlalu tinggi.”

Seolah-olah berubah adalah sesuatu yang buruk.

Padahal…

bertumbuh memang berarti berubah.

Perubahan bukan berarti melupakan orang-orang yang pernah membersamaimu.

Bukan berarti merasa lebih baik.

Melainkan memahami bahwa setiap hubungan memiliki musimnya masing-masing.

Ada orang yang ditakdirkan berjalan bersamamu sepanjang hidup.

Ada pula yang hanya hadir untuk mengantarkanmu melewati satu fase kehidupan.

Dan keduanya sama-sama berharga.


Kamu tidak kehilangan teman.

Sering kali yang sebenarnya hilang bukanlah orangnya.

Melainkan kecocokannya.

Bukan karena salah satu menjadi jahat.

Melainkan karena kalian tumbuh ke arah yang berbeda.

Dulu kalian dipersatukan oleh usia.

Sekarang hidup memiliki tujuan yang berbeda.

Dulu kalian bertemu setiap hari.

Sekarang tanggung jawab sudah tidak sama.

Tidak semua hubungan memang ditakdirkan bertahan selamanya.

Dan itu bukan kegagalan.

Itulah kehidupan.


Versi lama dirimu sudah menyelesaikan tugasnya.

Mungkin dulu kamu adalah orang yang selalu mengalah.

Takut mengecewakan siapa pun.

Sulit berkata “tidak”.

Selalu ingin diterima.

Selalu mendahulukan kebutuhan orang lain.

Jangan membenci versi dirimu yang dulu.

Karena tanpa dirinya…

kamu tidak akan menjadi dirimu yang sekarang.

Ia tidak gagal.

Ia hanya telah menyelesaikan tugasnya.

Sekarang waktunya versi yang lebih dewasa mengambil alih.

Versi yang berani membuat batasan.

Berani memilih.

Berani menjaga kedamaian batinnya.


Aktualisasi diri bukan tentang menjadi hebat.

Abraham Maslow menjelaskan bahwa salah satu tahap tertinggi perkembangan manusia adalah self-actualization—aktualisasi diri.

Namun banyak orang salah memahaminya.

Aktualisasi diri bukan berarti menjadi paling sukses.

Bukan pula memiliki paling banyak pencapaian.

Aktualisasi diri adalah ketika seseorang mulai hidup sesuai nilai-nilai yang ia yakini.

Tidak lagi hidup hanya demi menyenangkan semua orang.

Tidak lagi mengambil keputusan hanya agar diterima.

Melainkan berani menjadi dirinya sendiri.

Dengan segala konsekuensinya.


Jika hari ini kamu merasa sepi…

Mungkin kamu sedang berada di ruang transisi.

Belum sepenuhnya cocok dengan dunia lama.

Namun juga belum tiba di tempat yang baru.

Transisi memang tidak nyaman.

Tetapi justru di sanalah pertumbuhan sedang terjadi.

Jangan buru-buru kembali menjadi versi lama hanya karena merasa kesepian.

Karena kadang rasa sepi bukan tanda bahwa kamu tersesat.

Melainkan tanda bahwa hidup sedang menyiapkan lingkungan yang lebih sesuai dengan siapa dirimu sekarang.

Tetaplah berjalan.

Tetaplah belajar.

Tetaplah bertumbuh.

Sebab setiap level baru memang meminta keberanian untuk melepaskan sesuatu.

Dan sering kali, hal pertama yang harus kita lepaskan adalah rasa takut menjadi diri sendiri.


Voice of Influence
Ayuningtyas Widari Ramdhaniar

“Pertumbuhan bukan tentang meninggalkan masa lalu. Pertumbuhan adalah menghormati siapa dirimu dulu, sambil memberi ruang bagi siapa yang sedang kamu menjadi.”

Leave a comment

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑