Ibnu Sina dan Psychological Flexibility: Ketika Keadaan Tidak Ideal, Tetapi Langkah Tidak Berhenti

Oleh Ayuningtyas Widari Ramdhaniar

Banyak orang mengenal Ibnu Sina sebagai seorang dokter, filsuf, ilmuwan, dan penulis besar yang karya-karyanya memengaruhi dunia selama berabad-abad. Namun yang sering terlupakan adalah bahwa perjalanan hidupnya jauh dari kata nyaman.

Kita sering membayangkan tokoh besar lahir dari keadaan yang sempurna. Lingkungan yang mendukung. Hidup yang tenang. Kesempatan yang luas.

Padahal sejarah sering menunjukkan hal yang berbeda.

Ibnu Sina tidak hidup dalam dunia yang stabil. Ia hidup di tengah pergolakan politik, perebutan kekuasaan, perpindahan kota, ancaman terhadap keselamatannya, bahkan beberapa catatan sejarah menyebut ia pernah mengalami penahanan akibat dinamika politik pada zamannya. Meski demikian, satu hal tidak pernah berhenti:

Ia terus belajar. Ia terus menulis. Ia terus berkarya.

Dan mungkin justru di situlah letak pelajaran terbesarnya.

Bukan Ketangguhan. Tetapi Kelenturan

Banyak orang menganggap kesuksesan lahir dari mental yang keras.

Namun psikologi modern menawarkan sudut pandang yang berbeda.

Ada konsep yang disebut Psychological Flexibility atau fleksibilitas psikologis, yaitu kemampuan seseorang untuk tetap bergerak menuju nilai dan tujuan hidupnya meskipun sedang menghadapi pikiran, emosi, atau keadaan yang tidak nyaman.  

Dengan kata lain:

Bukan menunggu hidup menjadi mudah.

Tetapi tetap melangkah ketika hidup belum mudah.

Bukan menghilangkan rasa takut.

Tetapi tetap bertindak meskipun rasa takut itu ada.

Bukan menunggu keadaan ideal.

Tetapi tetap bergerak dalam keadaan yang tidak ideal.

Dalam pendekatan psikologi modern seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT), psychological flexibility dianggap sebagai salah satu fondasi kesehatan mental karena membantu seseorang menerima realitas yang tidak bisa dikendalikan sambil tetap berkomitmen pada tindakan yang bermakna.  

Ketika melihat perjalanan hidup Ibnu Sina, kita menemukan gambaran yang sangat dekat dengan konsep tersebut.

Ia Tidak Menunggu Langit Cerah

Sering kali kita berkata:

“Nanti kalau keadaan sudah tenang.”

“Nanti kalau masalah selesai.”

“Nanti kalau punya waktu.”

“Nanti kalau lebih siap.”

Sayangnya, “nanti” sering berubah menjadi “tidak pernah.”

Banyak impian tidak gagal karena kurang kemampuan.

Mereka gagal karena terlalu lama menunggu kondisi sempurna.

Ibnu Sina tidak memiliki kemewahan itu.

Saat politik berubah, ia berpindah.

Saat ancaman datang, ia bertahan.

Saat hidup tidak stabil, ia tetap belajar.

Saat masa depan tidak pasti, ia tetap menulis.

Dalam situasi yang membuat banyak orang berhenti, ia memilih untuk terus bergerak.

Bukan karena hidupnya mudah.

Tetapi karena ia tidak membiarkan keadaan menentukan arah hidupnya.

Psychological Flexibility dalam Kehidupan Kita

Hari ini mungkin kita tidak menghadapi konflik politik seperti yang dialami Ibnu Sina.

Tetapi kita menghadapi versi modernnya.

Tekanan pekerjaan.

Masalah keluarga.

Ketidakpastian ekonomi.

Kekecewaan.

Kehilangan.

Kegagalan.

Kecemasan akan masa depan.

Sering kali kita berpikir bahwa semua hambatan itu harus hilang terlebih dahulu sebelum kita bisa maju.

Padahal penelitian mengenai psychological flexibility menunjukkan bahwa orang yang mampu menerima keberadaan emosi dan kesulitan tanpa terjebak di dalamnya cenderung lebih mampu beradaptasi, bertahan, dan terus bergerak menuju tujuan hidup yang mereka anggap penting.  

Artinya, pertanyaan yang lebih berguna bukan:

“Mengapa hidup saya tidak sempurna?”

Tetapi:

“Apa langkah kecil yang masih bisa saya lakukan hari ini?”

Pelajaran yang Jarang Disadari

Ketika kita membaca kisah tokoh besar, kita sering terpaku pada hasil akhirnya.

Kita melihat karya-karyanya.

Kita melihat pengaruhnya.

Kita melihat namanya dikenang sepanjang sejarah.

Tetapi kita lupa melihat prosesnya.

Padahal yang membuat seseorang luar biasa sering kali bukan bakatnya.

Melainkan kemampuannya untuk tetap bergerak ketika banyak alasan untuk berhenti.

Mungkin itulah yang diwariskan Ibnu Sina kepada kita.

Bahwa kehidupan tidak selalu memberi cuaca cerah.

Kadang kita harus belajar berjalan saat hujan.

Kadang kita harus belajar menulis saat keadaan kacau.

Kadang kita harus belajar bertumbuh saat keadaan belum ideal.

Karena pada akhirnya, bukan keadaan yang menentukan masa depan kita.

Melainkan keputusan kita untuk tetap melangkah di tengah keadaan tersebut.

Dan mungkin itulah makna terdalam dari psychological flexibility:

Kemampuan untuk menerima kenyataan apa adanya, tanpa menyerahkan masa depan kita kepadanya.


Referensi

  1. Ibnu Sina (Avicenna). Berbagai catatan sejarah mengenai kehidupan, perpindahan politik, dan aktivitas intelektualnya selama Dinasti Samaniyah dan Buyid.
  2. Steven C. Hayes, Kirk Strosahl, Kelly Wilson. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) – konsep Psychological Flexibility.  
  3. Psychological Flexibility sebagai kemampuan beradaptasi terhadap tuntutan situasi, tetap berkomitmen pada nilai dan tujuan hidup meskipun menghadapi kesulitan. 

Leave a comment

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑