PERTUMBUHAN DAN KEBERLANJUTAN PERUSAHAAN SWASTA DITAHUN 2022 DALAM MENCAPAI SDGs 2030

Saat ini tata kelola sebuah perusahaan tumbuh dari tuntutan pertumbuhan dan keberlanjutan, baik ditinjau dari sisi perusahaan, industri, maupun negara. Dari sisi yang lebih luas, demi kepentingan bersama dan didasari oleh semangat niat baik yang dilakukan secara sukarela yaitu dimensi penopang tata kelola perusahaan. Kemudian asepek-aspek dimensi lainnya adalah suatu kondisi khusus yang disebut “comply or explain” (patuh atau jelaskan), kondisi dimana meminta perusahaan untuk mematuhi standart tata kelola yang tercantum dalam pedoman tata kelola atau JIKA TIDAK maka perusahaan harus menjelaskan, mengapa hal ini tidak dipatuhi dengan harapan dapat dijelaskan juga KAPAN perusahaan dapat mulai mematuhi pedoman ini.

Hal lain dalam dimensi penopang tata kelola adalah kontrol publik (stakeholders). Karena para stakeholders memiliki kepentingan dan juga peduli pada situasi dan dampak dari kegiatan usaha perusahaan. Harapan mereka adalah para pelaku usaha tidak hanya melihat target dalam waktu singkat tapi justru melihat dalam jangka panjang dan peduli pada implikasi kepada generasi penerus dan lingkungan.

Pada tahun 2022 dimana tepat Indonesia selama satu tahun yang dimulai pada 1 December 2021 ini memegang tonggak sebagai Presidensi G20, sementara sudah sampai mana capaian kinerja kita dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SGDs 2030), tentu saja ini tidak dapat dicapai tanpa kerjasama dari berbagai pihak, terutama pasca pandemi covid-19 ini private sector harus lebih banyak terlibat untuk capaian ini. Tanpa kerjasama maka capaian SDGs 2030 tidak akan tercapai, dan saya rasa 2022 mendatang sektor swastalah yang harus memegang kepemimpinan pencapaian SDGs sebagai stakeholders bagi Pemerintah, karena itu berarti swasta mendukung apa yang sudah diagendakan oleh Pemerintah bahkan di perpreskan nomor 59 tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Perusahaan yang menerapkan CSR dipandang memiliki kepedulian kepada lingkungan sekaligus mencerminkan kepedulian terhadap stakeholdersnya (karyawan, pimpinan, masyarakat, pemerintah, dan shareholdersnya). Managemen keberlanjutan yang mengusung konsep triple bottom line atau dikenal dengan istilah 3P (People, Profit, Planet) sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya penting sekali bagi perusahaan dapat memberikan keterengan seluas-luasnya kepada para stakeholdernya dalam bentuk sustainability report (laporan berkelanjutan) dan integrated report (annual report).

Salah satu bentuk CSR yang sering diterapkan di Indonesia adalah community development, yaitu penekanan terhadap pembangunan sosial dan pembangunan kapasitas masyarakat setempat yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan berkembang serta PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Negara menaruh harapan besar kepada sektor swasta untuk minimalnya disekitar unit bisnis mereka untuk meng-empower masyarakat disekitar unit bisnisnya, sehingga geliat UMKM terus berkembang, terutama UMKM yang memiliki inovasi pada bisnis mereka, karena diera sekarang perusahaan rintisan justru menjelma menjadi raksasa baru dengan modal inovasi. Sehingga para UMKM dapat beradaptasi dimasa sulit ini kearah kemandirian yang berkelanjutan dan kesiapan menghadapi persaingan ekonomi dunia usaha.

Setiap produk CSR yang disalurkan kemasyarakat dikaitkan dengan pilar-pilar pembangunan SDGs karena saya yakin misal ada perusahaan yang memberikan sanitasi air bersih itu artinya sudah menjalankan pilar Lingkungan pada point SDGs No.6 yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak. Lalu ada perusahaan yang berfokus pada investasi dibidang Energi Baru Terbarukan (EBT) berarti masuk pada point 7 (energi bersih dan terjangkau) dan point 9 mengenai industri, inovasi dan infrastruktur pada pilar pembangunan ekonomi, serta point 13 (climate action) pada pilar pembangunan lingkungan. Jujur saya sangat mengharapkan pada tahun 2022 nanti seluruh private sector bergabung membuat misalnya Jakarta SDGs Forum, Jawa Barat SDGs Forum dan lainnya disetiap provinsi dan pelaksanaannya di mall agar masyarakat luas terutama generasi Z dan millennial sadar dan teredukasi dengan adanya forum SDGs tersebut dan pemerintah juga bisa melihat sejauh mana efek perpres yang sudah dibuat untuk dilaksanakan diberbagai sektor untuk mencapai SDGs 2030.

AYUNINGTYAS WIDARI RAMDHANIAR, S.I.A.,M.Kesos

SHERPA TRACK PRESIDENSI G20 INDONESIA

PRESIDENSI G20 INDONESIA MERUPAKAN KESEMPATAN SEKALIGUS TANTANGAN MENJAWAB KESIAPAN KITA MENCAPAI SDGS 2030.

Dipenghujung tahun 2021 ini Indonesia mendapatkan kehormatan sekaligus dipercaya untuk memegang Presidensi G20, sebuah forum kerja sama multilateral berpengaruh yang beranggotakan 19 negara dan Uni Eropa. Sebagai sebuah forum yang anggotanya menyumbang 90% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 80% perdagangan dunia, dua pertiga populasi dunia, dan separuh luas lahan yang ada dibumi. Sehingga G20 merupakan platform strategis bagi Indonesia untuk “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial” sesuai dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Sementara kita juga masih bergelut untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs) pada tahun 2030 mendatang. Akan ada dua jalur pada pembahasan G20 nanti yaitu Finance Track yang membahas isu-isu dibidang ekonomi, keuangan, fiskal, dan moneter. Serta Sherpa Track yaitu yang akan membahas isu-isu ekonomi non keuangan seperti energi, pembangunan, pariwisata, ekonomi digital, pendidikan, tenaga kerja, pertanian, perdagangan, investasi, industri, kesehatan, anti korupsi, lingkungan, dan perubahan iklim.

Saya lebih tertarik membahas Sherpa Track ini karena isu-isu ekonomi non keuangan ini ada disekitar kita sehari-hari. Bagaimana private sector atau perusahaan swasta memiliki kontribusi yang besar terhadap keberlangsungan bisnis mereka karena melibatkan tenaga kerja apakah sistem penggajiannya sudah sesuai atau belum dengan undang – undang, mengenai jam kerja, mengenai hak dan kewajibannya dan lain sebagainya. Private sector ini memiliki peranan penting terhadap penyerapan lapangan pekerjaan di Indonesia dan Dunia. Karena dengan penyerapan tenaga kerja yang maksimal disetiap daerah di Indonesia tentu saja efek dominonya adalah kesejahteraan masyarakat yang meningkat. Hal ini masuk dalam pilar sosial SDGs yaitu PILAR SOSIAL (Tanpa Kemiskinan, Tanpa Kelaparan, Kehidupan yang sehat dan sejahtera, pendidikan yang berkualitas, dan Kesetaraan Gender). Bayangkan dalam satu pembahasan TENAGA KERJA bisa membahas langsung 5 point SDGS sekaligus, ditambah jika tenaga kerja tersebut ada perempuan diposisi strategis perusahaan bukan sebagai objek namun sebagai subjek, perempuan itu adalah konseptor yang dimana ide-ide besar muncul dari dirinya, penguasaan lapangan mampu diatasi, dan dapat memperkuat hubungan internal perusahaan serta membawa good image bagi perusahaan diluar. Sebelum memberikan beasiswa kepada orang lain diluar kantor, perusahaan juga dapat memberikan beasiswa kepada karyawannya mereka, maka tercapailah SDGs no 4 yaitu pendidikan berkualitas, bukan hanya kepada tenaga kerjanya sendiri tapi juga keluarganya dan lingkungan unit bisnis perusahaan.

Sekarang kita bahas isu Energi yang memang menjadi banyak ladang uang bagi private sector, namun perlu diingat bahwa pada 2030 nanti Batu Bara sudah tidak dipakai lagi karena tidak ramah lingkungan, sehingga bagaimana kelangsungan pemilik bisnis tersebut? Menurut Kompas.com pada 21/10/21 Pemerintah berencana memberlakukan pensiun dini (early retirement) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara mulai tahun 2030. PLTU tersebut akan diganti dengan energi yang lebih hijau atau energi baru terbarukan (EBT). Hal ini menyusul komitmen Indonesia dalam National Determined Contribution (NDC) Paris Agreement. Dalam dokumen NDC, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen dengan kemampuan sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Artinya hal-hal semacam ini jika tidak disosialisasikan dengan baik para pengusaha tidak siap dengan perubahan bisnis mereka, maka mereka juga bisa bangkrut. Maka perlu peralihan bisnis menuju Energi Terbarukan segera.

Kontribusi sektor energi yang ke depan akan menggantikan peran sektor berbasis lahan itu yang harus diperhatikan dengan baik, sementara kita tahu bisnis Energi Terbarukan membutuhkan biaya modal yang cukup besar, bagaima support pemerintah sendiri terhadap capaian upaya tersebut? Mobil listrik saja tidak disubsidi dan masih banyak beredar dijual mobil tidak ramah lingkungan dijual. Komitmen pemerintah juga harus jelas disini. Lalu penggunaan bio diesel sangat sedikit sekali besaran subsidi dari pemerintah untuk bisnis tersebut. Dari pembahasan energi kita sudah bisa maasuk ke isu yang lain juga yaitu perkebunan (kelapa sawit), industri bisnisnya, energi terbarukan ramah lingkungan, tenaga kerjanya, juga bahkan perdagangannya.

Untuk dimasa pandemi saat ini sektor pariwisata juga mengalami efek yang cukup signifikan dan banyak sekali tenaga kerja dari sektor pariwisata. Diharapkan pembahasan G20 ini membawa kebijakan dunia mengenai pariwisata pasca pandemi covid-19 ini agar lebih baik lagi. Karena kunci negara aman dari keributan dan kerusuhan adalah lapangan pekerjaan untuk dapat membiayai hidup mereka, sekolah anak-anak mereka, makan, dan diharapkan juga konsumsi meningkat. Kesehatan juga berpengaruh saat orang kehilangan pekerjaan maka dampak kesehatan pertama adalah psikologi mereka. Oleh karena itu, semua hal ini sangat berkaitan dan sangat penting dibahas dalam G20 nanti.

Penerapan Good Government Governance di sektor pemerintahan pun masih sekedar retorika dan belum terimplementasikan menyeluruh kedalam diri mereka. Juga penerapan Good Corporate Governance pada sektor swasta. Mungkin baiknya di hitung kembali pendapatan dan pengeluaran dari kalangan menengah sampai kalangan miskin. Karena menurut pengamatan saya yang paling berdampak saat pandemi ini justru kalangan masyarakat menengah. Mau naik keatas gak mungkin mau turun kebawah juga sulit karena tagihan cicilan dimana-dimana sementara penghasilan berkurang bahkan hilang. Karena kalau kalangan masyarakat miskin setiap bulan dapat bantuan dari pemerintah minimalnya untuk makan mereka setiap hari pasti ada dan bisa, sementara kalangan menengah banyak yang gak tau bahwa disekitar kita mau makan aja tidak ada uang namun mereka malu untuk mengungkapkan hal tersebut. Hal ini pula dampak dari korupsi yang merajalela disetiap sektor kehidupan kita.

Oleh karenanya pasti dengan Indonesia memegang Presidensi G20 selama satu tahun penuh ini diharapkan adanya manfaat langsung yang dapat dirasakan karena pertemuan tersebut dilaksanakan secara fisik misalnya peningkatan konsumsi domestik, penambahan PDB nasional, pelibatan UMKM dan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.

Yang terpenting dari semua itu adalah mendapatkan kepercayaan dari investor global untuk melakukan percepatan pemulihan ekonomi dan mendorong kemitraan global yang saling menguntungkan.

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, S.I.A.,M.Kesos

Produktivitas Kerja dan Team Work

Setelah 15 tahun bergelut didunia kerja dan bisnis, hal yang selalu melekat adalah produktivitas. Bagaimana saya menciptakan waktu yang produktif semaksimal mungkin baik untuk diri sendiri, lingkungan, dan pekerjaan itu sendiri. Bedanya, saat itu saya masih sendiri dan cenderung telat untuk menikah. Sehingga, saat teman-teman seusia saya sudah memiliki anak besar saya masih bayi-bayi, wah tambah deh PR nya. Tapi waktu yang produktif itu mengikat pada bagaimana KARAKTER MANUSIA nya itu sendiri.

Bagaimana kita menginginkan diri kita menjadi seperti apa dan bagaimana kedepannya akan menentukan hidup kita akan menjadi produktif atau tidak. Sejak kecil saya tidak memiliki gank, tidak ada sahabat yang benar-sahabat, tapi siapapun yang mau bertemu dengan saya dan saat itu bisa bertemu ya kenapa tidak untuk bertemu. Tapi saya memutuskan untuk tidak melakukan pembicaraan sebagai berikut : ghibah alias membicarakan orang lain, fitnah alias menuduh orang lain yang belum tentu dilakukan, serta curhat tentang masalah saya pribadi. Ketiga hal tersebut menjadi GARIS bagi saya menentukan arah pembicaraan. Orang-orang mungkin bisa melihat saya bertemu dengan A-Z siapapun mereka tapi pada saat berbicara ketiga hal tersebut tidak akan saya layani dan dengan tegas saya menjawab dengan bijak.

Hal itulah yang akhirnya membawa kepada seleksi alam. Ingatlah bahwa Allah memyatukan orang-orang yang sama, itu adalah ENERGI. Orang baik bertemu dengan orang baik, orang tidak baik akan bertemu dengan orang tidak baik. Jadi bagi saya, sebelum mengharapkan ingin berteman dengan siapa atau lingkungan yang seperti apa, lihatlah pada diri sendiri, sudah cukupkah kita dengan mental seperti yang kita inginkan dari orang lain. Karena meminta seusatu itu selalu mudah, tapi tidak dengan kejujuran terhadap diri sendiri.

Karena melawan EGO ke-Aku an itu begitu sulit sehingga itulah yang membuat dunia belum mencapai kedamaian. You know what, jika Anda menginginkan Dunia menjadi lebih baik, perbaikilah diri Kita sendiri, karena percayalah merubah orang lain jauh lebih sulit daripada merubah diri sendiri.

Saat ini, Allah mulai menyeleksi pertemanan saya dengan orang-orang paling produktif. No ghibah, No Fitnah, No Curhat. Isinya aseli hanya SHARING Knowledge, bisnis, dan opportunity. Thanks to Covid, memang kita perlu sejenak dijauhkan dari semua manusia agar lebih dapat intropeksi kedalam dan melihat dengan jelas keluar mana arah yang sebenar-benarnya. Saya memiliki team work yang luar biasa memiliki energi yang sama untuk membesarkan perushaan dan organisasi bersama-sama.

DNA kami seolah bersatu dalam lingkungan kerja yang produktif bahkan dihari weekend kami bisa tetap megurus keluarga masing-masing sambil membicarkan peluang serta perbaikan kedepan bagi perusahaan dan organisasi.

THANK YOU ALLAH, ENGKAU MAHA BAIK

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, SIA., M.Kesos