Some Woman feels unsafe at Home

“Please reach out to your friends, keep your key contacts with you, and check if services are available near you to keep everyone safe from the coronavirus and domestic violence,” says Sia, an advocate, social worker and a survivor of domestic violence. For most people in her town, she is a โ€œbig sister and friendโ€ who listens and cares for others. With 4 billion people around the world sheltering at home because of the #COVID19 pandemic, many women are trapped in isolation with abusive partners, unable to access life-saving resources and support systems. In some countries, cases of domestic violence have risen by 30%. Siaโ€™s work is needed now more than ever.

Seperti yg saya alami, sebagai single parents yang belum memiliki fix income dan belum memiliki support system yg memadai terhadap akses kebutuhan hidup sehari2 dimana kaki dikepala dan kepala dikaki tentu hal ini menjadi sangat dilematis saat menghadapi pandemi covid-19 ini. Support system bagi single parents seperti kami sungguh tidak ada; pertama dari pemerintah, kedua tidak memiliki suami yg menanggung hidup kami, ketiga ternyata pintar saja gak cukup kalau karier kita dihadang oleh pihak tertentu sehingga saat itu karier terhalang dan saat ini mencari kerja sulit wong PHK dimana2.

Karena kita di Indonesia secara sistem belum memiliki sistem yang otomatis bisa menjangkau kebutuhan masyarakat seperti saya. Orang bilang saya gak butuh bantuan karena pny rumah dan mobil dan “terlihat” mampu. Sementara di Malaysia semua kalangan dapat bantuan karena mereka tidak melihat apa yang terlihat dari luar saja. Pemerintah kita gak berpikir bahwa semua itu bisa saja kredit, atau bukan miliknya lalu soal sistem yang sama sekali tidak mensupport pekerja sosial atau harian atau by project seperti banyak orang itu juga tidak pemerintah pikirkan. Teman saya cerita karena ia kerja di Pemda DKI yang awal Tahun baru selesai tender untuk periklanan lalu 3 bulan kemudian ada covid ini pemenang tender bunuh diri menabrakan diri di kereta karena ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk DP semua vendor termasuk artis sementara ia ga tau bagaimana kelanjutam hidupnya.

Saya misalnya, bagaimana setiap hari sy berpikir beli pampers 2 susu 2 karena memiliki 2 baby usia 1 tahun dan 3 tahun dan kebutuhan itu menjadi dasar kebutuhannya belum makannya, cemilannya. Belum galon seminggu 100.000, token listrik yg ga ada discount sm sekali malaysia disc 25% selama pandemi ini loh dan lain2nya. Sy harus berusaha kemana2 untuk meneruskan hidup demi keluarga yg saya hidupi sendiri termasuk menggaji pembantu yang 2 bulan ini belum saya gaji. Cant u imagine? Sy masih mau cari uang yg halal dengan berusaha kesana kesini.

Saya paham akhirnya kenapa ada orang yang akhirnya berbuat kejahatan meski awalnya tidak ingin. Itu karena keadaan yang membuat sulit dan sabar sudah tidak bisa lagi karena anak2 dan keluarganya harus makan belum tagihan pembayaran ini dan itu. Oleh karena itu dibutuhkan sangat besar kekuatan iman dan takwa dalam menghadapi pandemi covid-19 ini bagi kami yang tidak memiliki fix income seperti yang lainnya. Bahkan kami berusaha keras meraih income dengan cara halal dan menjunjung harga diri, namun kadang bagi orang2 tertentu hal itu tidak cukup sampai kita mau merendahkan diri kita. Dan itu gak mungkin saya lakukan.

Semoga bangsa ini akan hadir seorang pemimpin yang mencerahkan rakyatnya dan menjadi solusi dari setiap permasalahan di masyarakat yang tidak pernah terungkap. Pemimpin yang bukan hanya mau mendengar tapi menjadikan semua tempat sebagai tempat pembelajaran. Karena begitu banyak orang pintar yang tidak belajar dari kepintarannya dan banyak orang bodoh yang tidak menjadikan kebodohannya sebagai pembelajaran.

Semoga Tuhan segera memudahkan segalanya… menguatkan semua yang lemah… terutama menguatkan iman dan taqwa bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya kesulitan.