KEBANGKITAN NASIONAL menjadi Kebangkrutan Nasional

21 Mei 2020- saya kehabisan kata-kata untuk mengucapkan kalimat “Selamat Hari Kebangkitan Nasional” tanggal 20 Mei yang lalu. Pandemi covid-19 ini membuat banyak perubahan sekaligus kita jadi paham bahwa pemerintah kita belum siap mengambil keputusan yang belum pernah ada sebelumnya seperti negara tetangga Malaysia.

Sejak awal, pertama saya bingung kok leading nya BNPB bukan Kemenkes karena logika saya ini kan bencana nya soal penyakit bukan bencana alam, tapi ya sudahlah bukan perkara yang besar, lalu mengenai bantuan pun yang terlalu banyak syarat, kartu pra kerja dinilai bisa mengobati PHK masal menurut saya itu salah diagnosa penyakit dan salah resep obat. Saya tidak berkata bahwa kartu pra kerja tidak bagus, namun dengan membuat masyarakat harus membayar sekian untuk mendapatkan pelatihan tentu bukan cara yang tepat, karena kalau pemerintah yang mau membantu biar pemerintah donk yang harusnya bayarin biaya pelatihan itu. Toh sama saja menggunakan kuota juga. Terlalu banyak syarat untuk membantu rakyat, itu yang saya garis bawahi.

Kedua, bahan bakar kita yang tak kunjung turun dimana dinegara-negara lain sudah turun, artinya kita bisa menilai terlalu banyak nakhoda dalam kapal yang bernama migas Indonesia dari mulai soal penjualan di Pertamina, izin di SKK Migas, lalu ada BPH migas, belum lagi Kementerian ESDM, DPR RI komisi VII meski sebagai legislator namun tak sedikit yang bermain disini, dan semua itu menakhodai sehingga tidak dipimpin oleh satu kepala hanya Pertamina seperti dahulu kala dan itu dipelajari oleh Malaysia. Kita harus ingat bahwa Malaysia belajar dari kita soal ini, sampai dia membuat Petronas, saat ini stabil sekali urusan BBM di Malaysia karena kapal nya hanya dinakhodai oleh satu kepala, Petronas.

Sementara kita di Indonesia terlalu banyak sekali kepentingan sehingga cost nya yang dikeluarkan sungguh sangat banyak, sampai di pombensinnya saja banyak sekali pajak yang harus dikeluarkan, akhirnya wajar bbm kita tidak mungkin turun. Dan untuk merespon keinginan rakyat menurunkan bbm keluarlah statement bahwa diskon Program cashback Pertamina berlaku dari 27 April hingga 31 Mei 2020. Dengan menggunakan aplikasi MyPertamina baru bisa menikmati cashback 30% atau maksimal Rp 20.000 pada transaksi pertama setiap hari untuk pembelian Pertamax Series seperti Pertamax dan Pertamax Turbo serta Dex Series seperti Pertamina Dex dan Dexlite. Untuk mengikuti program tersebut, konsumen harus mendownload MyPertamina. Kemudian, mengisi saldo dan bertransaksi di SPBU Pertamina yang sudah terkoneksi dengan aplikasi. Karena program ini berbentuk cashback. Jadi, pengguna harus melakukan transaksi terlebih dahulu dan akan dilakukan verifikasi, kemudian cashback akan diterima konsumen melalui LinkAja.

Malah ternyata sahabat sy coba menjadi warga negara yang mempercayai pertamina isi donk bahan bakar tsb dan download my pertamina juga membayar pakai LinkAja tapi apa yang terjadi? Jonk… alias kena prank. Ga ada tuh cash back 30%. Terlampir dibawah ini:

Saya membaca syarat itu aja udah pusing, saya bukan gaptek namun saya menempatkan diri sebagai rakyat biasa. Saya menengok raykat di negara tetangga kalau mau bantu ya bantu saja ga usah syarat dan ketentuan. Kenapa juga tidak semua jenis bbm yang langsung diskon? Masuk SPBU isi bensin dan bayar sudah diskon lebih simple, rakyat happy dan pemerintah pun pasti dipuji. Dengan mendownload aplikasi meski gratis itu kan ada perputaran uang bagi si pemilik aplikasi ditambah membayar harus dari aplikasi linkAja sama itupun ada perputaran uang bagi pemilik aplikasi itu seperti ovo, gopay dan lain sebagainya. Kalau ovo, gopay, dan lainnya wajar berdagang dari awal memang berbisnis, namun ini lembaga negara yang seharusnya melayani rakyatnya disumpah atas nama rakyat Indonesia namun kenapa harus tetap “mengutamakan dagang” saat corona begini? Kalau tidak ada pandemi mau bikin program cash back 30% seperti paragraph diatas dalam rangka menyambut HUT Pertamina misalnya silahkan saja, gimik kan gak masalah. Wajar kok BUMN berdagang tapi moment nya kurang tepat bikin programnya, sekali lagi banyak syarat. Dan ternyata itu pun masih belum tentu benar… menyedihkan sekali. Bukankah disana sudah ada Komisaris yang paling dicintai rakyat sejagad karena paling revolusioner katanya memperjuangkan hak rakyat? Kok sekarang gak kedengeran ya marahin orang dalemnya kebijakan gak pro rakyat? Tapi ya sudah bukan kapasitas saya juga sih. In my humble opinion aja itu sih.

Kenapa ya Indonesia tidak mau mengambil keputusan dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dengan extreme yang membuat rakyat tidak menjerit? Yuk kita lihat bagaimana Malaysia memperlakukan pandemi covid-19 yang membuat Menteri Kesehatannya mendapat penghargaan dari PBB sebagai menteri terbaik yang menangani pandemi ini.

Malaysia memiliki program disebut Paket Stimulus Ekonomi Peduli yang diumumkan Perdana Menteri pada 27 Maret 2020. Paket tersebut berjumlah RM 250 miliar mewakili 17% dari PDB. Jumlah terbesar dalam sejarah keuangan negara. Karena Malaysia berpikir diperlukan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah mengambil langkah berani dan bertanggung jawab untuk melindungi rakyat, menjaga kesehatan rakyat, membantu dan mendukung bisnis termasuk UMKM, membangun dan memperkuat ekonomi negara.

Meski ada masalah-masalah yang tak mudah di awal, pemerintah Malaysia mengambil aksi cepat dan holistik, termasuk mengerahkan militer untuk membantu polisi menjaga roadblock sebagai bagian Perintah Kawalan Pergerakan, serta mengajak media dan figur-figur berpengaruh untuk mengajak publik patuh.Kuncinya adalah bisa terus berkomunikasi dengan publik dengan empati, jelas, dan konsisten.

Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin mengumumkan sebuah Perintah Kawalan Pergerakan ketimbang lockdown: ini awalnya berlangsung dari 18 – 31 Maret, tetapi telah diperpanjang hingga 14 April. Meski ada masalah-masalah seperti orang yang berpergian antar daerah atau masih berkerumun di pasar, tingkat kepatuhan dilaporkan meningkat signifikan hingga 95 persen.

Kebanyakan warga Malaysia tentunya cemas dengan adanya pergeseran besar dari rutinitas mereka, tetapi ini jelas bahwa banyak yang paham pentingnya berada di rumah saat ini. Harapannya ini terus berlanjut, dan laju infeksi menjadi stabil dan menurun. Hanya layanan-layanan esensial diizinkan untuk melanjutkan operasi pada saat ini. Ini termasuk supermarket, bank, toko obat, perlengkapan perlindungan diri, aktivitas e-commerce dan layanan logistik dan transportasi.

Pemerintah akan menyajikan fasilitas bantuan khusus untuk bisnis-bisnis kecil serta mengalokasikan 200 juta ringgit untuk fasilitas kredit mikro. Bank diminta menyajikan bantuan finansial dalam bentuk moratorium pembayaran utang, termasuk restrukturisasi dan menjadwal ulang pinjaman bagi bisnis dan individu yang terdampak. Pemerintah juga mendukung bisnis-bisnis melalui pendanaan dan fasilitas e-commerce untuk mendukung keberlanjutan bisnis.

Sementara untuk masyarakat berpenghasilan lebih rendah, pemerintah telah melakukan distribusi Bantuan Sara Hidup sebesar 200 ringgit dari Maret 2020 hingga Mei 2020, dan akan mendistribusikan tambahan 100 ringgit pada bulan Mei bagi yang layak mendapatkannya.

Pemerintah juga mengizinkan warga berusia 55 tahun ke bawah untuk mengambil 500 ringgit dari Akun 2 pada dana tabungan pensiun dari Kumpulan Uang Simpanan Pekerja demi membeli persediaan pokok selama 12 bulan. Pemerintah juga menyediakan fasilitas dan bantuan dalam bentuk pembayaran perawatan anak, utilitas, dan pembayaran utang dan sebagainya. Hal itu adalah langkah-langkah baik tetapi lebih banyak yang harus dilakukan untuk pekerja di sektor informal serta pekerja gig dan freelance yang memiliki pemasukan yang lebih tak stabil atau bergantung pada pendapatan harian. Mereka akan paling terdampak oleh Perintah Kawalan Pergerakan.

Pemerintah Malaysia membuat perumpamaan tokoh dalam kisah prihatin keluarga Makcik Kiah sebagai perumpamaan nilai manfaat uang yang akan diterima keluarga Makcik Kiah baik bantuan (subsidi) dari pemerintah dan pinjamannya dengan tag line No One Left Behind.

Rinciannya adalah bantuan dari pemerintah senilai RM 4,200 dan peminjaman RM 4,464 jadi total satu keluarga mendapat RM 8,664 untuk memenuhi hidupnya selama pandemi corona ini berlangsung, meski untuk pinjaman sifatnya pilihan boleh diambil boleh tidak. Bahkan ada pemberian bantuan tunai bagi orang yang bujang alias single sebesar RM 800 kepada 3 juta orang yang berusia 21 tahun ketas dan berpendapatan bulanannya RM 2000 kebawah. RM 500 dibayar pada bulan April dan sisanya RM 300 pada bulan Mei. Sementara ada juga bantuan bagi orang yang bujang alias single sebesar RM 500 kepada 400.000 orang yang berusia 21 tahun ketas dan berpendapatan bulanannya diatas RM 2000 sampai RM 4000. RM 250 dibayar pada bulan April dan sisanya RM 250 pada bulan Mei. Bantuan tunai untuk pelajar sebesar RM 200, untuk satu rumah dengan kondisi pendapatan kurang dari RM 4000 maka mendapatkan bantuan tunai sebesar RM 1600/rumah, dan yang keluarganya pendapatannya RM 4000 – 8000 mendapatkan bantuan tunai RM 1000/rumah. Untuk PNS dan pensiunan dengan kelas 56 kebawah mendapatkan bantuan tunai RM 500, supir online mendapatka bantuan tunai RM 500, dan bantuan keseimbangan hidup dipercepat. Dan untuk pekerja frontliners nih ya, Dokter dan perawat dapat bantuan tunai sebesar RM 600 perbulan, polisi, tentara, imigrasi, dan bea cukai,sebesar RM 200 perbulan.

Jadi berdasarkan rincian diatas artinya pemerintah Malaysia memberikan stimulus kepada pengusaha yang mengalami penurunan bisnis sebesar 50% sejak 1 Januari 2020. Kemudian, pemerintah Malaysia juga melarang perusahaan untuk memotong gaji karyawan dengan penghasilan di bawah RM 4.000 per bulan. Sementara yang terjadi Indonesia? PHK masal terjadi dimana-mana, menurut LIPI badan Litbang Ketenaga kerjaan Kementerian Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI melakukan survei online sebanyak 25 juta pekerja terancam kehilangan pekerjaan terutama di sektor bebas. Sejak 8 Mei 2020 menurut APINDO sudah ada 7 juta orang yang di PHK. Indonesia sangat banyak diisi oleh kalangan menengah kebawah sehingga wajar jika saya berkata Kebangkitan Nasional 2020 ini menjadi Kebangkrutan Nasional, karena Pemerintah seolah mencekik rakyatnya dengan tuntutan harus dirumah saja tanpa bantuan tunai, pengusaha dan majikan harus bayar THR tapi gak dikasih stimulus ekonomi alias bantuan tunai, bahkan Menaker bisa berata kena sanksi bagi yang tidak memberikan THR. Ya Allah miris sekali melihat cara kerja dengan negara tetangga.

Pada tanggal 6 April hanya berselang 10 hari Perdana Menteri Malaysia mengumumkan lagi kenaikan tambahan stimulus ekonomi bagi rakyat sebesar RM 10 bilion dari semula RM 250 bilion. Sungguh saya menonton secara live tercengang dengan cara kerja good corporate governancenya, sehingga rakyat percaya pada pemerintah karena nilai-nilai dari GCG benar-benar terimplementasi dengan baik. Semua ini berlaku bagi semua kalangan dan pelaku usaha, dari yang subsidi upah RM 7,9 bilion menjadi RM 13,8 bilion. Pengusaha yang karyawannya misal 2 orang gaji RM 4000 dapat subsidi RM 18.000 dan berhak mendapatkan pinjaman RM 50.000, lalu ada subsidi upah untuk perusahaan yang memiliki karyawan 76-200 orang senilai RM 800 setiap pekerja, dan RM 1200 per orang untuk perusahaan tidak lebih dari 76 orang karyawan. Majikan yang terdaftar dengan SSM (The Companies Commision of Malaysia), PBT (otoritas lokal), Perkeso (departemen keuangan jaminan sosial) sebelum 1 januari 2020 mendapatkan bantuan selama 3 bulan untuk dapat menggaji ART nya mereka karena pemerintah paham bahwa majikannya sebagai mesin pencari uang kesulitan mencari rezeki selama pandemi ini, sehingga itulah bentuk emphaty dari pemerintah Malaysia. Penanggauhan bayaran pinjaman apapun selama 6 bulan dan saat live Perdana Menteri mengucapkan terima kasih kepada semua bank yang terlibat memberikan kemudahan ini.

Pemerintah Malaysia dan perusahaan telekomunikasi memberikan layanan data internet gratis kepada semua warga terhitung mulai 1 April 2020. Paket data internet gratis ini diberikan sebagai dampak diberlakukannya lockdown atau pembatasan pergerakan (MCO). Pemerintah menganggarkan dana RM 600juta dari Paket Stimulus Keprihatinan Rakyat untuk inisiatif internet gratis ini. Bahkan ada tambahan anggaran RM 400juta yang dialokasikan untuk meningkatkan jangkauan jaringan internet sehingga bisa mendukung aktivitas warga yang beralih ke online. Sementara di Indonesia semakin sulit akses internet, sinyal masiih saja tidak bagus bagaimana bisa kerja dari rumah? Banyak sekali tuntutan harus poduktif kepada masyarakat namun dengan modal sendiri itu sangat menyedihkan bagi Indonesia yang kaya raya.

Tidak hanya itu, pemerintah Malaysia juga menganggarkan 530 juta ringgit sehingga warga bisa mendapat potongan 15 sampai 50 persen biaya listrik dengan maksimum penggunaan 600 kilowatt per bulan. Rinciannya, penggunaan di bawah 200 kilo Watt (kW) akan menerima diskon 50%, penggunaan 201 kW-300 kW akan menerima diskon 25% dan penggunaan 301 kW-600 kW akan menerima diskon 15%. Ini sangat berbeda bagi Indonesia yang justru kemarin ramai-ramai netizen berteriak bayar listrik naik, mau kalangan apapun sih ya bagi saya semua sedang krisis keuangan. Sehingga diharapkan Pemerintah Indonesia seharusnya dapat membangkitkan semangat hidup rakyatnya dengan memberikan bantuan kepada warga negara yang memilihnya melalui sistem politik dengan bantuan tunai dan kemudahakan akses TANPA TAPI alias syarat harus download ini itu, mendaftar kesini kesitu, bukankah selama ini kita ada BPS, ada disdukcapil, ada kemenakertrans, pajak, ojk, dan ada kepala daerah yang memiliki data seharusnya masing-masing orang penghasilannya berapa di ATM masing-masing warganya.

Kalau cara penanganan pandemi covid-19 kita seperti Malaysia maka wajar jika polisi menangkap pelanggar dan dibawa ke kantor polisi untuk diproses pembayaran denda. Kita? Sedih rasanya sekali lagi, karena saya sangat mendukung untuk menghentikan penyebaran virus ini dengan hanya dirumah saja, namun saya tidak bisa tutup mata bahwa karena Pemerintah kita tidak memberikan stimulus kepada rakyatnya secara merata untuk tetap dirumah saja dan bisa membayar segala cicilan mereka entah mobil, rumah, motor, asuransi, listrik, air, makan, beli kebutuhan sehari-hari seperti yang punya anak single parents seperti saya susu, pampers, makanan bayi, dan lain sebagainya. Sehingga saya tidak bisa menyalahkan rakyat 100% untuk tetap dirumah saja tanpa mencari nafkah untuk memenuhi kebuhtuhan hidupnya sehari-hari. Melihat polisi berdebat dengan warga dari cara duduk dimobil dan sebagainya rasanya dilema jadi saya mohon lebih manusiawi juga sih para aparat kita, percayalah bahwa tidak ada satupun orang yang mau kena penyakit virus covid-19 ini.

Percayalah bahwa kami amat sangat mencintai Indonesia lebih dari apapun, oleh karena itu kami berani bersuara ini bukan soal personal, bukan soal like and dislike ini soal SISTEM. Karena saya meyakini jika SISTEM DIATAS BENAR MAKA TURUN KEBAWAH PUN AKAN TEPAT SASARAN. Sama dengan air teko isinya kopi maka yang keluar pasti kopi tidak mungkin berubah menjadi teh manis. Jadi jika diatas airnya bersih maka sampai ke bawah airnya pasti jernih, itu saja cara berpikirnya. Artinya kalau sistem sudah benar maka SIAPAPUN yang memimpin Bangsa ini rakyat akan tetap sejahtera, bisa makan perut kenyang, semua menempun pendidikan sekolah sampai perguruan tinggi, dan semua memiliki pekerjaan untuk menghasilkan uang. Pertanyaannya siapa yang berani memulai untuk mengubah sistem ini yang sangat rumit dan panjang seperti benang kusut, karena pasti akan terjadi kegaduhan yang besar jika mengubah sistem, pemimpin seperti itu pasti harus memiliki mental yang kuat dan pribadi yang matang secara emosional, cara berpikir, dan cara bersikap.

Semoga Kebangkitan Nasional menjadi Kebangkrutan Nasional ini hanya terjadi di tahun 2020 ini saja dan menjadi Kebangkitan Nasional yang sesungguhnya dengan bangkitnya perekonomian rakyat Indonesia di tahun yang akan datang.

 

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar

D3 FISIP Administrasi Perkantoran & Sekretaris Universitas Indonesia

S1 FISIP Administrasi Negara Universitas Indonesia

S2 FISIP Kesejahteraan Sosial & Otonomi Daerah Universitas Indonesia

CEO ReThinkbyAWR

Some Woman feels unsafe at Home

“Please reach out to your friends, keep your key contacts with you, and check if services are available near you to keep everyone safe from the coronavirus and domestic violence,” says Sia, an advocate, social worker and a survivor of domestic violence. For most people in her town, she is a “big sister and friend” who listens and cares for others. With 4 billion people around the world sheltering at home because of the #COVID19 pandemic, many women are trapped in isolation with abusive partners, unable to access life-saving resources and support systems. In some countries, cases of domestic violence have risen by 30%. Sia’s work is needed now more than ever.

Seperti yg saya alami, sebagai single parents yang belum memiliki fix income dan belum memiliki support system yg memadai terhadap akses kebutuhan hidup sehari2 dimana kaki dikepala dan kepala dikaki tentu hal ini menjadi sangat dilematis saat menghadapi pandemi covid-19 ini. Support system bagi single parents seperti kami sungguh tidak ada; pertama dari pemerintah, kedua tidak memiliki suami yg menanggung hidup kami, ketiga ternyata pintar saja gak cukup kalau karier kita dihadang oleh pihak tertentu sehingga saat itu karier terhalang dan saat ini mencari kerja sulit wong PHK dimana2.

Karena kita di Indonesia secara sistem belum memiliki sistem yang otomatis bisa menjangkau kebutuhan masyarakat seperti saya. Orang bilang saya gak butuh bantuan karena pny rumah dan mobil dan “terlihat” mampu. Sementara di Malaysia semua kalangan dapat bantuan karena mereka tidak melihat apa yang terlihat dari luar saja. Pemerintah kita gak berpikir bahwa semua itu bisa saja kredit, atau bukan miliknya lalu soal sistem yang sama sekali tidak mensupport pekerja sosial atau harian atau by project seperti banyak orang itu juga tidak pemerintah pikirkan. Teman saya cerita karena ia kerja di Pemda DKI yang awal Tahun baru selesai tender untuk periklanan lalu 3 bulan kemudian ada covid ini pemenang tender bunuh diri menabrakan diri di kereta karena ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk DP semua vendor termasuk artis sementara ia ga tau bagaimana kelanjutam hidupnya.

Saya misalnya, bagaimana setiap hari sy berpikir beli pampers 2 susu 2 karena memiliki 2 baby usia 1 tahun dan 3 tahun dan kebutuhan itu menjadi dasar kebutuhannya belum makannya, cemilannya. Belum galon seminggu 100.000, token listrik yg ga ada discount sm sekali malaysia disc 25% selama pandemi ini loh dan lain2nya. Sy harus berusaha kemana2 untuk meneruskan hidup demi keluarga yg saya hidupi sendiri termasuk menggaji pembantu yang 2 bulan ini belum saya gaji. Cant u imagine? Sy masih mau cari uang yg halal dengan berusaha kesana kesini.

Saya paham akhirnya kenapa ada orang yang akhirnya berbuat kejahatan meski awalnya tidak ingin. Itu karena keadaan yang membuat sulit dan sabar sudah tidak bisa lagi karena anak2 dan keluarganya harus makan belum tagihan pembayaran ini dan itu. Oleh karena itu dibutuhkan sangat besar kekuatan iman dan takwa dalam menghadapi pandemi covid-19 ini bagi kami yang tidak memiliki fix income seperti yang lainnya. Bahkan kami berusaha keras meraih income dengan cara halal dan menjunjung harga diri, namun kadang bagi orang2 tertentu hal itu tidak cukup sampai kita mau merendahkan diri kita. Dan itu gak mungkin saya lakukan.

Semoga bangsa ini akan hadir seorang pemimpin yang mencerahkan rakyatnya dan menjadi solusi dari setiap permasalahan di masyarakat yang tidak pernah terungkap. Pemimpin yang bukan hanya mau mendengar tapi menjadikan semua tempat sebagai tempat pembelajaran. Karena begitu banyak orang pintar yang tidak belajar dari kepintarannya dan banyak orang bodoh yang tidak menjadikan kebodohannya sebagai pembelajaran.

Semoga Tuhan segera memudahkan segalanya… menguatkan semua yang lemah… terutama menguatkan iman dan taqwa bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya kesulitan.

Hari Kebebasan Pers International | World Press Freedom Day on May,3rd

Hari Kebebasan Pers International 3 May 2020 ini bertemakan “journalism without fear or favour” bagi saya akses terhadap informasi adalah hak yang sangat mendasar.

Apa bahayanya tidak memiliki media independen?

Jika Anda memiliki media yang tidak independen, bahayanya satu dimensi. Jadi, Anda memiliki media yang hanya berbicara kepada pemilih tertentu tentang siapa media itu bergantung. “Jika Anda akan memiliki media yang berbicara dengan suara yang sama, suara orang-orang yang memiliki dan mengendalikannya, yang merusak keragaman dan pluralitas media dan jika media itu sekali yang dirusak, itu juga merusak demokrasi itu sendiri.” Sebuah media independen penting karena berbagai alasan, tetapi paling tidak, fakta bahwa media dapat mewakili seluruh jajaran opini dan sudut pandang dalam masyarakat tertentu.

Bagaimana warga melindungi media?

“Saya pikir warga negara perlu meminta pertanggungjawaban media melalui umpan balik (feed back) tetapi juga memanggil jurnalis. Hal lain adalah feed back tentang warga negara waktu mereka yang mampu untuk mendukung inisiatif media kecil. Misalnya, sekelompok organisasi dan inisiatif yang dilakukan oleh Daily Maverick (Daily Maverick adalah surat kabar harian Afrika Selatan yang didirikan pada 2009). Mereka yang mampu berkontribusi untuk mendukung dan mempertahankan jurnalisme independen, mereka harus melakukan itu. Semakin banyak orang yang bisa melakukan itu, semakin baik. Kita menyadari bahwa perusahaan2 media besar yang ada di dalamnya untuk mendapatkan uang, jadi jika Anda dapat mengumpulkan seluruh warga negara / masyarakat untuk mendukung jurnalisme yang kritis dan berkualitas, itu juga baik untuk media dan demokrasi. ”

Seperti apa media independen terlihat?

“Tidak ada satu pun definisi yang menjelaskan segalanya. Tetapi, dalam pandangan saya, media independen adalah media yang terikat pada warga negara, bukan media yang terikat pada kekuasaan. Didanai dengan cukup baik sehingga dalam operasinya sehari-hari tidak perlu melihat ke belakang untuk melihat bahwa beritanya tidak menyinggung satu atau sejumlah kekuatan lainnya. Dengan kata lain, itu terdiri dari jurnalis dan warga yang didorong oleh keinginan untuk melaporkan cerita atau menceritakan kisah tanpa didorong oleh berbagai kekuatan yg kuat. Dengan kata lain, independensi bagi saya berbicara kepada jenis otonomi dari tekanan langsung dan tidak langsung yang ditimbulkan oleh hierarki perusahaan, oleh politisi dan oleh kelompok-kelompok seksi lainnya.”

Bagaimana jurnalis membangun dan membangun kembali kepercayaan?

“Saya pikir wartawan harus sebisa mungkin, bahkan dalam konteks menurunnya sumber daya, mencoba untuk pergi ke sana, keluar dari zona yang nyaman mereka, menjangkau masyarakat miskin, terutama masyarakat yang terpinggirkan yang merupakan mayoritas. Pergilah ke sana dan lakukan kisah-kisah yang menyangkut orang biasa. Ini adalah kekeliruan bahwa kisah-kisah itu tidak laku. Mereka menjual jika ada penumpukan naratif yang konsisten”

“Masyarakat yang terus terpinggirkan berubah menjadi kekerasan dan bahwa kekerasan akan mengarah suatu hari, cepat atau lambat menjadi boomerang. Dengan kata lain, itu demi kepentingan pemerintah tetapi juga bisnis-bisnis besar yang hadir. Jadi, jika kisah-kisah itu secara konsisten diceritakan oleh jurnalis yang keluar dari zona nyaman mereka untuk bercerita di masyarakat, itu menjadi baik bukan hanya untuk kewarganegaraan tetapi juga untuk bisnis karena Anda berbicara tentang stabilitas sosial.”

“Jadi saya pikir jurnalis harus membangun kembali kepercayaan itu dengan pergi ke komunitas.”

“Dengan kata lain, titik awalnya adalah keluar dari zona nyaman mereka dan berbicara kepada masyarakat yang terpinggirkan karena itu adalah demokrasi. Para elit sudah dimanjakan dan memiliki akses ke hampir semua hal, tetapi saya pikir itu harus menjadi kepentingan setiap jurnalis untuk ingin memperjuangkan komunitas demokratis yang lebih adil. Bagi saya, itu harus menjadi titik awal dan segala sesuatu akan kembali ke asalnya. ”

Oleh karena itu ReThinkbyAWR menggukan skema pentahelix setiap melakukan program yaitu dengan melibatkan 5 pihak yang berkepentingan seperti Pemerintah, private sector, community, akademisi, dan media massa demi tercapainya percepatan akses keterbukaan informasi kepada publik yang terus dituntut kedepannya oleh masyarakat.

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar
Open Government Partnership ReThinkbyAWR