Refleksi Banjir di Tahun Baru 2020

Tahun baruan saat harusnya refleksi diri, namun banyak dari kita yang menganggap hak yang harus dirayakan dengan pesta dan gemerlap kemewahan dan suka cita. Ya memang benar, kita harus optimis menyambut Tahun Baru dengan semangat bahagia, tapi bukan juga dengan melakukan hal yang menurut saya mubazir. Memang disisi lain sah saja siapapun mau melakukan apapun, namun yang menjadi soal saat ada bencana alam yang menimpa lalu tidak pernah bisa berkaca diri justru melemparkan ke orang kain.
Apa kalian lupa bahwa kalian bakar uang ke langit demi gemerlapnya langit malam dengar pijar cahaya warna warni, lalu Tuhan berikan sambutan kembali dg air hujan tak kunjung henti dr langit yg kalian beri lemparan cahaya sekejap tak henti sampai banjir lalu kalian caci maki pemerintahan. Mawas diri, apakah kita sdh cukup berkontribusi untuk alam ini dan tempat kita tinggal?
Hal itu tentu saja menjadi cerminan siapa diri kita sesungguhnya, bencana alam dan apapun itu merupakan campur tangan Tuhan yang tak bisa kita lupakan hal tersebut. 1 perbuatan berdampak baju seluruh umat, itu yg harusnya kita tanamkan pada diri sendiri agar;
1. Saat dikendaraan atau dimanapun biasakan mengumpulkan sampah terlebih dahulu jika belum ada tenpat yg layak untuk membuang sampah, yang layak loh ya di tempat sampah bukan di pojokan pohon atau kebun kosong atau kali.
2. Saat dimanapun berada dan kita memegang sampah untuk dibuang langsung mawas diri, ingat bahwa apa yg kita lakukan itu berdampak bagi seluruh umat muka bumi ini. Jangan pernah berpikir “ah kan cuma saya sendiri gak mungkin banjir” bayangkan kalo kalimat tersebut terlontar dari mininal setengah jiwa penghuni bumi?!?! Apa gak tenggelam negeri kita atau ditimpa bencana alam lainnya?
3. Jgn pernah menyepelekan kebijakan sekecil apapun. Pemerintah telah menetapkan beberapa aturan jarak membangun rumah atau bangunan yang dekat sungai, seperti Pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993 tentang garis sempadan sungai, disebutkan pada pasal 10 dijelaskan bahwa penetapan garis sempadan danau, waduk, mata air dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang telah ditetapkan dalam keputusan Presiden R.I. Nomor : 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 
Pada pasal 12 juga disebutkan bahwa pada daerah sempadan dilarang ; membuang sampah, limbah padat dan atau cair, medirikan bangunan permanen untuk hunian dan tempat usaha. 
Namun pada kenyataannya masih terdapat bangunan permanen. Dengan sudah banyaknya penduduk yang tinggal di kawasan sempadan yang merupakan areal terdampak, bahkan beberapa sudah memiliki serifikat tanah dan juga IMB, demikian di daerah hulu bangunan-bangunan permanen permukiman perumahan, sarana pendidikan serta bangunan-bangunan milik swasta masih berdiri di area sempadan, tentunya akan sangat tidak mudah untuk menata kembali kawasan tersebut.

Sempadan sungai berfungsi sebagai ruang penyangga antara ekosistem sungai dan daratan, agar fungsi sungai dan kegiatan manusia tidak saling terganggu.

untuk mengurai persoalan banjir di Negeri kita tercinta ini diharapkan mampu melakukan Pendekatan   teknis   yang   diperlukan   sehubungan dengan   kondisi   kawasan   sungai dan  sekitarnya  yakni :
1). Menormalisasikan  sungai,  sehingga  sempadan  sungai  akan  jelas  keberadaannya dan fungsinya.
2). Daerah  aliran  sungai  perlu  ditata,  sehingga hutan  lindung  tetap  terjaga,  guna mengurangi  masalah  sedimentasi  dan  sebagai  daerah resapan.
3). Untuk   daerah-daerah   limitasi   (terbatas),   perlu   ditanggulangi   agar   penggu-naannya  lebih  terarah.
Yuk saling menjaga lingkungan kita, jgn menyalahkan org lain krn ini sudah dari sananya dr awalnya yg salah membenarkan yg salah dan panjang kali lebar lah skrg persoalannya.

Semoga korban Banjir yang menimpa bisa lebih sabar, dan menjadikan moment ini refleksi awal tahun 2020 untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Negeri ini dipilih oleh rakyat oleh karena itu jadilah rakyat yang bijaksana untuk menjaga diri sendiri dari prilaku yang menyimpang aturan ataupun norma, semua demi diri sensiri dan anak cucu cicit kita kelak.

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar,M.Kesos

EQUALITY- Hello 2020

“Kalau perbedaan adalah rahmat, kenapa Anda ingin disamakan dengan laki-laki?”

Kalimat tersebut adalah salah satu komentar yang banyak kita temui saat menggugat konsep kesetaraan gender.

Betapa menyedihkan saat menyadari betapa banyak orang tak memahami arti kata setara, apalagi konsep kesetaraan gender.

Setara itu bukan berarti sama. Berikut definisi kedua kata tersebut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

setara/se·ta·ra/ n 1 sejajar (sama tingginya dan sebagainya): kedua kakak beradik itu duduk ~; 2 sama tingkatnya (kedudukannya dan sebagainya); sebanding: pilihlah istri yang ~ denganmu; 3 sepadan; seimbang: tenaga yang dipergunakan harus ~ dengan hasilnya;

sama 1/sa·ma /a 1 serupa (halnya, keadaannya, dan sebagainya), tidak berbeda; tidak berlainan: pada umumnya, mata pencaharian penduduk desa itu ~ saja; kedua soal itu ~sulitnya;

Memperjuangkan kesetaraan gender bukan berarti menuntut perempuan untuk menjadi sama dengan lelaki, tetapi mendukung perempuan dan lelaki agar mendapat kesempatan untuk ada dalam posisi yang sejajar. Karena banyak jg ketidak adilan judgement soal lelaki, misal Lelaki ga boleh ngurus anak dirumah atau masak. Selama itu kesepakatan bersama why not? Kecuali tu lelaki malah main cewe lagi. Itubgak beres malah nyuruh istrinya yg cari nafkah.

Mendobrak konstruksi sosial bahwa lelaki “dari sananya diberi kelebihan sehingga hanya dia yang layak jadi pemimpin”. Ini memberi laki-laki stigma dan beban juga. Harus selalu memimpin, enggak boleh nangis, harus maskulin, harus melindungi perempuan.

Ini abad ke-21. Perempuan dan lelaki bisa sama-sama jadi pemimpin, bisa berbagi pendapat dan beban, bisa berada dalam spektrum femininitas-maskulinitas, harus pula bisa saling melindungi.

Feminisme adalah upaya untuk mengubah ketidaksetaraan gender menjadi kesetaraan gender. Bukan usaha agar perempuan jadi sama dengan lelaki, bukan taktik supaya perempuan tercerabut dari agama, bukan menuntut laki-laki jadi bawahan perempuan. Bukan pula ajaran “Barat” karena spiritnya selaras dengan banyak ajaran dan agama yang mengedepankan keadilan, termasuk Islam.

Yang sering dijadikan dasar menggugat feminisme adalah pemahaman keliru tentang kodrat — bahwa feminisme membuat perempuan lupa akan kodratnya.

Kalau soal bekerja, mengurus anak, menyetir, memimpin, dan dipimpin, semua hal tersebut bukanlah kodrat karena dapat dilakukan oleh perempuan dan laki-laki.

“Saya bingung sama wanita yang minta kesetaraan. Bukannya kalian itu selalu mendapatkan keistimewaan lebih, kalo ada dua beban juga pasti laki-laki yang lebih berat wanita yang lebih ringan”

Nah, kalau soal berbagi beban, saya rasa ini masalah kemanusiaan, bukan mengistimewakan salah satu gender. Kalau Anda punya fisik yang kuat dan melihat orang lain yang badannya lebih lemah, apa salahnya membantu? Kalau Anda dikaruniai otak yang cemerlang, apa salahnya membantu mereka yang kemampuan kognitifnya lemah (kecuali pas ujian ya)?

Perlu dicatat bahwa tidak semua lelaki lebih kuat fisik maupun otaknya daripada perempuan, sangat mungkin terjadi hal sebaliknya. Bisa saja Anda, perempuan muda yang berbadan sehat dan kuat, memutuskan memberi tempat duduk di KRL Commuter Line kepada lelaki paruh baya yang tampak sakit dan memerlukan istirahat.

Jadi, jgn masuk keranah yang terlalu privacy selama antar perempuan dan lelaki saling mendukung satu sama lain tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Perempuan memiliki masalah yg lebih complicated di Indonesia karena terbentur dengan sistem yang mempersulit perempuan. Saya mewakili AWR Foundation akan terus memperjuangkan itu. Start from 2020 fokus terhadap perempuan.