Dedicated to you

Kala itu rasanya malam, tak segelap biasanya dan malam sangat terasa panjang. Dia berlari namun hanya dalam pikirannya. Tubuhnya tetap diam kaku tak bergerak. Suaranya tangisnya keras namun hanya dalam hatinya. Wajahnya tetap tenang bak air di danau.

Semua orang menyapanya penuh haru dan berusaha menghiburnya. Perhatian-perhatian kecil yang keluar dari hati tetap dapat menyentuh hati. Tidak melulu diperlukan hal besar untuk menyentuhnya.

Hari terus berlalu ia pun menjadi lebih bijaksana, menjadi titik balik untuk lebih menghargai kebersamaan dengan orang yang masih ada. Kepergiannya tak dapat digantikan oleh siapapun, selalu ada ditempat yang khusus dan tak tersentuh. Walau raga telah pergi dan jasad berpisah namun cintanya tetap mengelilingi hati nya dan yg ditinggalkannya. Karena Ungkapan cinta tulus yang persisten sangat kuat meluluhkan hati.

Maka puisi bagi mereka :

Kita adalah sepasang resah yang menyembunyikan hati ke dalam pasrah
Mengoleksi kenangan dan meyelundupkan diri dibalik ingatan
Mengapa kita terus meratapi keadaan dan mengoreksi Tuhan?
Tidak ada cara merevisi takdir jika keterpisahan adalah ketetapan. (5/6/2019)

Aku hanyalah senja yang perlahan lesap di keheningan matamu, mempuisikan kenangan yang kusimpan di jenggala waktu. Saat matahari akan tenggelam tercuri waktu, disitulah aku kenang sebagai jingga yang pernah terpancar indah pada senyummu seperti senja, meski sesaat di mataku, kau adalah ciptaan Tuhan yang paling indah.

Dia menjaga hatinya harus kuat demi keluarganya, dia menjaga air matanya demi keluarganya, dia menjaga dirinya demi semua yang ia sayangi yang masih mampu ia sentuh. Namun, Hanya pantai yang mampu membaca pasang surut hatinya dan Hanya laut yang mampu mengeja Rasa air matanya.

Tulisan ini kupersembahkan untuk sahabat saya, sy inget bgt dia bantuin sy thesis pertama kali saat masih gelap blm ada bayangan apapun. Dia memudahkan sy mengakses siapapun yg saya butuhkan. Dan skrg saat kemarin 1 November 2019 gak sengaja dipertemukan Allah di acara UI malam penghargaan, sy mendengar kabar yang mengharukan.

Dear, Mas Judianto, ST.,MT.

Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan “How to”… Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana.

With all my heart,

Tyastar⭐️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s