Sumpah gak lg galau…
Cuma dakwah aja kl secinta cintanya kita sm orang Hrs selalu ingat bhw org yg kita cintai pun milik Allah jgn berharap itu akan mnjd milik kita itu awal dr ego diri kesombongan diri scr tdk sengaja.

Serahkan segala nya trmsk hati kita dan hati org yg kita cintai.
Yakinlah apa yg nampak buruk atau jauh belum tentu dia jauh… sesungguhnya di dalam hati setiap umat Allah titipkan cahayanya masing2 tugas kita, terangilah hati… maka cahaya itu membawa kita pada damai krn Allah sll bersama kita…

Org yg kita cintai pun Allah jaga untuk kita… percayalah…
#Tyastar
@tehtyastar

View on Path

Sikap Mau Belajar

“Pergunakanlah waktu Anda untuk mendengarkan serta membaca kira-kira 10x lebih banyak dari waktu yang Anda gunakan untuk berbicara. Ini akan memastikan Anda terus belajar serta memperbaiki diri”

Yang penting adalah apa yang Anda pelajari setelah mengetahui semuanya.

Para pemimpin menghadapi bahaya jika bersikap puas diri dengan status quo. Jika ada pertanyaan “mengapa pemimpin yg sdh memiliki pengaruh dan sdh mencapai tingkat kehormatan tertentu harus mengembangkan diri? Bukanya gak perlu?”

Jawabnya sederhana:
👠 Pengembangan diri Anda menentukan siapa Anda sesungguhnya.
👔 Siapa Anda sesungguhnya menentukan siapa yang akan tertarik kepada Anda.
📚 Siapa yang tertarik kepada Anda menentukan kesuksesan organisasi Anda.

Nah jadi, jika ingin mengembangkan organisasi, Anda harus tetap mau belajar! ;)⌚🎓👒👜💼📚💱👞👠

#Tyastar
#Love
#Organisasi

View on Path

Without you….
Menyampaikan kebenaran yang tidak ingin didengar mmg terasa menyakitkan, tapi bagi org2 yg berpikir positif dan maju itu akan menjadi perbaikan bagi hidup mereka…
Dan itu jauh jauh jauh lebih damaiiii….
Sakitnya 5 menit untuk mendengarkan kebenaran tidak seberapa dr bertahun-tahun yang aku alami sendiri.

Tp rasa cinta dan kekuatan positif ku membuatku lebih lebih lebih banyak memberikan cinta kepada siapapun didunia ini krn aku tau rasanya sakit maka tak akan kubiarkan siapapun tersakiti.

Cinta cinta cinta…
Itulah hidupku…

Jangan jadi juri dunia untuk menggantikan malaikat…

View on Path

Akibat Kekerasan Verbal Orang Tua

Ada kalanya orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata yang kejam memiliki kekuatan lebih hebat ketimbang palu godam sekalipun.

Kendalikan ucapan Anda, bila tak ingin anak-anak mengalami luka batin hingga memengaruhi perkembangan mereka.Β 
Boleh jadi orangtua yang menyebut anaknya “Si Goblok” atau “Si Biang Kerok” atau Si “Pengacau” atau “Si Lelet” dan sejenisnya menganggap semua itu sebagai hal biasa saja. Bahkan, julukan semacam itu mungkin diberikan dengan harapan anak yang bersangkutan menyadari kekurangannya.

Mungkin Anda tak pernah membayangkan bahwa julukan buruk, sebutan negatif, komentar melecehkan, kritik yang bernada menghina, dan ungkapan yang merendahkan itu memberikan pesan yang luar biasa negatif kepada anak-anak tentang siapa diri mereka.

Banyak anak yang mengalami kekerasan secara verbal (menggunakan kata-kata) menyangkut penampilan fisik mereka, kecerdasan, kemampuan,hingga nilai mereka sebagai manusia.

Menurut DR. Susan Forward dalam bukunya ToxicParents, kekerasan secara verbal disampaikan melalui dua gaya. Yang pertama menyerang anak secara langsung, terbuka, dan secara jahat merendahkan si anak. Contohnya adalah memberikan julukan-julukan seperti yang disebutkan di atas, termasuk menyebut si anak “tak berguna” atau yang paling keras adalah menyatakan “menyesal telah melahirkannya.”

Semua, itu memiliki dampak jangka panjang terhadap perasaan anak, dan memengaruhi citra diri mereka.

Kekerasan verbal juga bisa disampaikan secara tidak langsung, tetapi sangat menghina dan melecehkan mereka. Seringkali orangtua membungkus kekejamannya itu dengan nada humor atau canda yang sarkastis. Contohnya, “Lihat tuh kelakuan si jelek dia kan dipungut dari rumah sakit, Kalau anak Mama Papa nggak kayak gitu deh….”

Dan jika si anak atau anggota keluarga lain memprotesnya, orangtua akan membela diri dengan berkata, Ah, ‘kan Cuma bercanda.”

Orangtua semacam ini lupa bahwa anak-anak sangat mempercayai apa yang diucapkan oleh orangtuanya. Jika orangtua bilang si anak jelek dan bodoh, ia percaya dirinya betul-betul jelek dan bodoh. Karena itu, tidak mudah bagi mereka jika diharapkan mampu membedakan apakah ucapan ayah/ibunya itu serius atau hanya bercanda.

Maksudnya Baik?

Semua orang maklum bahwa kadang-kadang kita sebagai orangtua merasakan jengkel, kecewa, bahkan marah terhadap anak. Kalau mengikuti lirik lagu grup band Serieus: orangtua juga manusia, ayah juga manusia, ibu juga manusia.

Kadang-kadang anak-anak memang sulit diatur, suka berbuat sesuka hati, mengotori rumah tanpa henti, prestasi di sekolah kurang bagus, maunya bermain melulu, kadang berantem, ada yang mulal belajar bohong, kamar tidurnya berantakan, dan sebagainya.

Ditambah dengan beban pekerjaan dan urusan-urusan lain yang berat, semua perilaku anak itu kadang membuat orangtua tidak tahan. Ada saja orangtua yang memilih kekerasan verbal terhadap anak-anak dengan tujuan mendidik, dilandasi oleh maksud yang baik. Mungkin mereka tidak tahu bahwa tak akan pernah ada hasil yang baik jika proses untuk mencapai tujuan itu tidak baik.

Maksud dan tujuan baik hanya akan terwujud baik jika dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. Kekerasan fisik maupun verbal, bukanlah cara yang tepat dalam mendidik anak, kata DR. Forward. Ia bahkan menyebut “kejam”, jika ada orangtua yang tahu bahwa anak-anak sangat percaya pada ucapannya, tetapi tetap mengucapkan hal-hal yang dapat melukai perasaan anak.

Bagaimanapun, anak juga manusia, punya rasa punya hati. Ucapan-ucapan bernada menghina dan merendahkan itu akan direkam dalam pita memori anak, makin lama makin bertambah dan dirasa berat, sehingga akhirnya anak memiliki citra diri negatif.

Mengganggu Perkembangan Citra diri yang negatif itu di kemudian hari menyebabkan anak tidak mampu tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Anak akan memiliki rasa malu yang kuat, bersikap ragu-ragu, dan lebih suka menarik diri dari pergaulan.

Pada anak-anak, citra diri negatif tersebut bahkan dapat membentuknya tumbuh sebagai pribadi pemberontak, kasar, bodoh, jorok, lamban, pengacau, dan sebagainya.

Pendek kata, anak akan menampilkan diri sesuai dengan julukan yang diberikan kepadanya oleh orangtua. Anak-anak itu sangat percaya pada ucapan yang berkali-kali keluar dari mulut ayah ibu mereka.

Dengan kata lain, jika kita sebagai orangtua mengharapkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang baik, sehat, cerdas, berbudi luhur tentu kata-kata, sikap, dan perilaku kita pun harus sesuai dengan harapan tersebut.

Jika orangtua menampilkan diri sebaliknya, perkembangan anak-anak pun akan terganggu, tidak sesuai dengan harapan. Tidak mungkin kambing beranak kuda, bukan? Mari kita jaga lidah kita.

Daftar Ucapan Kejam

Memberikan julukan negatif kepada anak misalnya Si Dungu, Si Goblok,Si Lelet, Si Biang Kerok, Si Pemalas, Si Pengacau, Si Penipudan sebagainya.

Mengecilkan arti si anak misalnya orangtua menyebut anak sebagai tak berguna atau percuma dilahirkan

Memberikan kesan bahwa si anak tidak diharapkan misalnya dengan menyebutnya sebagai anak pungut atau diambil dari rumah sakit atau diambil dari tempat sampah atau menyatakan, “Nggak mungkin anak Papa-Mama,” dan sebagainya.

Menganggap anak sebagai sumber kesialan dengan berkata, “menyesal sudah melahirkan.”

Melecehkan kemampuan anak seperti, “Ah mana mungkin ia bisa,” atau “Sudahlah kamu ngerti apa?” atau “Aku jamin kamu pasti gagal…” Kadang juga lebih halus, “Pengen deh lihat kamu berhasil tapi itu mustahil.”

image

image

Koreksi diri lbh baik daripada terus menyalahkan orang lain…
Berusaha menerima kebenaran sekalipun harus disampaikan melalui anak sendiri.

Posted from WordPress for Android

Congratulations yaaa Pak Ical, semoga semakin amanah dan mampu membawa Golkar kedepan lebih baik…
Dukung yg muda2 buat berkarya juga ya Pa… yg udah tua kl gak berprestasi boleh kali dilongkap πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜…πŸ˜…

Bersatu lah Golkar kuuu…

View on Path

Ubah sistem Ospek kita!!!

Orientasi siswa baru harusnya membangun percaya diri dan harga diri siswa, bukan dengan mempermalukan mereka.

Kalau bukan kita sendiri yg mengangkat derajat dan martabat bangsa kita siapa lagi? Terlalu banyak lelucon yg sdh tdk bs di tolelir disini. Dan sayangnya banyak orang yang menikmati.

Bangsa kita bukan dagelan, bangsa kita harusnya bermental besi tp siapa yg membuat bangsa kita bermental tempe? Kita sendiri… jangan banyak menyalahkan orang lain…

Ubah sistem Ospek kita menjadi lbh bermartabat dan bermanfaat. Sudah seharusnya pemuda Indonesia mampu bersuara dan berjuang juga memegang peranan bangsa Indonesia.

View on Path

Cuma naro barang tas mudik… trus ganti jilbab trus jalan lagi ke Bandara 😷…
Katanya suruh nunggu lobby telat, ampe d tlp nin “dimana dimana dimana” lah skrg kita udh d Lobby orgnya lama beneeerrrr πŸ˜‘πŸ˜‘ – at Aston Priority Simatupang

View on Path