kebakaran hutan sebagai bencana Nasional

Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran di Pekanbaru, Riau merupakan bencana Nasional yang tidak bisa dianggap enteng oleh kita. Karena jika kita pikirkan efeknya, itu akan berpengaruh buruk pada kesehatan jangka panjang. Anda bisa bayangkan jika udara yang tidak sehat dihirup 24 jam oleh ibu hamil, anak-anak, dan khalayak umum. sebelumnya, mari kita bahas efek kesehatan dari asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan ini:

Asap adalah produk pembakaran yang sempurna dan tidak sempurna, yang terdiri dari partikel partikel gas dan uap serta unsur unsur terurai yang dilepas dari suatu bahan yang terbakar. Semua bahan yang dapat terbakar akan menghasilkan karbon monosida ( gas CO ) dan karbon dioksida ( gas CO2 ) dalam jumlah besar. Selain itu juga, mengeluarkan zat zat beracun seperti : Nitrogen monoksida dan dioksida, gas sulfur, formaldehida ( dikenal sebagai formalin ), hidrokarbon, partikel dan zat oksidan, serta puluhan bahan beracun lainnya.

Dampak asap kebakaran hutan bagi kesehatan antara lain :

Karbon monoksida : sifat yang khas dari gas CO, adalah kemampuannya untuk berikatan dengan hemoglobin ( zat warna sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh ) 200 kali lebih besar dari pada oksigen, sehingga aliran oksigen terganggu. Kondisi ini berbahaya bagi otot jantung dan pembuluh darah tepi. Pada susunan syaraf dapat menyebabkan kejang kejang dan hilang kesadaran. Pada wanita hamil akan menyebabkan aliran oksigen ke janin berkurang sehingga bayi akan lahir dengan berat badan rendah, keguguran, anak dengan kepintaran kurang ( IQ rendah ). Pada kulit akan cepat menjadi keriput dan kendur,

Nitrogen monoksida dan dioksida : adalah gas yang berbahaya bagi manusia, NO2 empat kali lebih berbahaya dari pada gas NO, keracunan gas ini akan menyebabkan kelumpuhan sistem syaraf dan kejang. Pada paru paru menyebabkan gejala infeksi pernapasan akut ( ISPA ) kesulitan bernapas, kekambuhan asma, pembengkakan paru paru.

Zat Oksidan : Oksidanperoksida atau Oksidanfotokimia terdiri dari Ozon, Nitrogen dioksida, Peroksiasetilnitrat, gas gas ini akan menyebabkan gangguan pernapasan sampai pembengkakan dan kanker paru paru. Pada susunan syaraf menyebabkan gangguan koordinasi, pusing , dapat juga menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan.

Hidrokarbon : bila dihirup akan mengakibatkan iritasi paru paru dan dalam jangka panjang akan menyebabkan kanker paru paru.

Formalin : Selain sebagai bahan pensucihamaan dan pengawet mayat, yang berupa gas formalin dapat terhirup dari asap sisa pembakaran. Bila keracunan formalin : timbul mual,muntah, diare, bersih, radang amandel, iritasi hidung, radang dan pembengkakan paru paru.
Pada mata akan terjadi iritasi, mata merah, berair, radang selaput mata dan lensa ( Kompas Cyber Media /Depkes RI 14/08/06 ) .

Partikel debu melayang ( Suspended Partikulated Matter/SPM ): campuran berbagai senyawa organik maupun nonorganik di udara, bisa juga bercampur dengan timah hitam. Partikel ini memyebabkan iritasi saluran pernapasan dan iritasi mata.

Sebagian gas dan partikel diatas, akan lebih berbahaya bila mengenai bayi, balita dan orang tua atau orang dengan kondisi tubuh yang menurun. Hal ini dihubungkan dengan kondisi badan , lamanya atau beratnya paparan gas tersebut.
Celakanya kita akan menghirup semua gas dan partikel debu yang ada pada asap secara bersamaan, bisa dibayangkan berapa kerusakan yang ditimbulkan asap pada sel sel dan organ tubuh.

 

Lalu sekarang mari kita lihat efek kebakaran hutan terhadap perekonomian Bangsa:

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyebutkan, selama Januari 2014, bencana telah menyebabkan inflasi 1,07 persen.

Inflasi ini lebih besar daripada Januari 2013 yakni 1,03 persen. Saat ini nilai kerugian dan kerusakan akibat bencana selama tahun 2014 masih dilakukan perhitungan. Berdasarkan beberapa perkiraan dan kajian dampak ekonomi bencana selama 1 Januari 2014 hingga akhir Februari 2014 adalah: Kerugian akibat bencana asap dari pembakaran lahan dan hutan di Riau secara ekonomi sebesar Rp 10 triliun lebih. Kerugian sebesar tersebut muncul antara lain akibat menurunnya produktivitas usaha, mobilisasi barang dan orang melalui transportasi darat, udara dan laut tertunda dan terganggu akibat kabut asap itu.

Menurutnya, kerugian dan kerusakan tersebut belum dihitung dari dampak biofisik, sosial, kesehatan, dan politis. Sebagai gambaran adalah dampak bencana asap akibat pembakaran lahan dan hutan yang marak saat ini. Dampak biofisik berkaitan dengan pelepasan asap, emisi CO2, NOx, dan CH4 berdampak pada pemanasan bumi.

Kebakaran akan memusnahkan flora, fauna dan biodiversitas ekosistem di darat. Sebagai gambaran kebakaran lahan dan hutan di Indonesia pada 1997 menimbulkan emisi 0,8-2,6 milyar ton CO2 ke atmosfer atau setara dengan 13-40 persen emisi CO2 kebakaran hutan pada tahun tersebut di dunia.

Dampak sosial antara lain berkurangnya sumber mata pencaharian, kurangnya ketersediaan air, sekolah libur, dan lainnya. Dampak kesehatan seperti gangguan ISPA, iritasi mata, asma, batuk dll. Saat ini dampak kesehatan di Riau penderita ispa 30.249 orang, pneumonia 562 orang, asma 1.109 orang, iritasi mata 895 orang, dan iritasi kulit 1.490 orang. Sedangkan dampak politis adalah jika asap sampai lintas batas negara menjadi isu politik.

Biaya untuk Penanganan bencana asap di Sumatera dan Kalimantan, BNPB menganggarkan Rp 300 milyar. Sementara itu dana cadangan penanggulangan bencana per tahun hanya ada Rp 3 triliun. Ini untuk darurat Rp 1,5 triliun dan pasca bencana Rp 1,5 triliun. Itu untuk semua penanganan bencana di seluruh Indonesia. Tentu saja kurang untuk memenuhi semua kebutuhan yang ada. (http://www.tribunnews.com/nasional/2014/03/04/sutopo-dampak-bencana-terhadap-ekonomi-indonesia)

—————————————————————–

Melihat 2 dampak diatas saja sudah mengerikan jika ini terjadi setiap tahun di Negeri tercinta Indonesia ini. Menurut pendapat saya, tidak cukup jika Polisi hanya menangkap pelaku pembakaran hutan disana, tapi juga perlu diselidiki siapa oknum yang menyuruh melakukan pembakaran hutan tersebut? jangan-jangan mereka disogok dengan biaya yang cukup besar, rela dipenjara demi uang yang diberikan oleh oknum tersebut.

Saya sangat sependapat dengan Bapak Agung Laksono ketika menyampaikan bahwa otak pelaku kebakaran hutan bisa saja dari luar negeri—–

VIVAnews – Pemerintah Singapura, melalui Kementerian Luar Negeri, kembali menyampaikan seruan kepada RI untuk berbagi bukti terkait keterlibatan perusahaan Singapura atau warga mereka yang membuka lahan secara ilegal di Indonesia.

Pernyataan Kemenlu Singapura ini merupakan respons dari pernyataan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono, pada tanggal 27 Februari 2014. Saat itu, Agung menyebut, pelaku pembakaran hutan dalam kurun 2013-2014, ada yang berasal dari Singapura dan Malaysia.

Dilansir dari stasiun berita Channel News Asia, Sabtu 1 Maret 2014, Kemenlu Negeri Singa serius menanggapi tuduhan yang disampaikan oleh Agung Laksono tersebut.

Coba pemerintah harus lebih tegas, bahwa setiap perusahaan di Riau harus mempunyai ISO CSR juga, bukan hanya ISO dari kualitas penjualan produk mereka. Karena perusahaan itu harus memiliki kontribusi terhadap banyak hal disekitar perusahaan dan harus melakukan tanggung jawab sosial yang bukan lagi menjadi sekedar “sedekah” tapi menjadi kewajiban. Berapa biaya yang perusahaan asing itu dapatkan dari mengeksploitasi bumi kita dan berapa biaya yang kita dapatkan dari itu pula serta kerugiannya, sungguh berbanding terbalik…

Perusahaan itu harusnya memikirkan ketika sudah menebang pohon, pikirkan untuk membangunnya kembali, jika sudah memberi kerugian dari limbah dan asap serta kebisingan bagi masyarakat sekitar maka pikirkan tanggung jawab sosialnya untuk mensejahterakan masyarakat disana; beasiswa anak-anak berprestasi, pembangunan rumah yang sudah tidak layak huni, pelestarian budaya yang ada, pembangunan tempat beribadah, memajukan perekonomian dengan menjadikan masyarakat sebagai mitra binaan perusahaan. Tapi sepertinya perhatian terhadap CSR dinegara ini masih kurang merata khususnya jika yang beroperasi adalah perusahaan asing.

nanti kita lanjut lagi yah bahas CSR nya dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Pekanbaru, Riau ini… see yaaa…

 

Tyastar

Shining you always

 

Amerika dapat Ciremai, Oknum pejabat dapat fee, Masyarakat Kuningan dapat apa?????

Pemerintah pusat melalui Wakil Menteri ESDM dan Gubernur Jawa Barat bahkan staf khusus Presiden menanggapinya secara harfiah bahwa ‘tidak benar’, ‘tidak mungkin’ bahkan mengatakan ‘bohong besar’ Gunung Ciremai dijual. Hellloooo Tuan-tuan terhormat anak kecil juga tahu kalau gunung bukanlah objek jual beli. Yah ini kan penjajahan model baru…

Pemerintah sepertinya masih menganggap masyarakat kita memang masih bodoh atau bida juga Pemerintah gak punya “hati” sebagai orang timur. Sense of belonging nya gak ada!  Harusnya pemerintah lebih introspeksi, mengapa sampai program untuk memproduksi Listrik Tenaga Panas Bumi (Geothermal) harus dikelola oleh asing??? Bukanya sdh menjadi PR bagi Pemerintah kita untuk memikirkan bagaimana caranya anak2 Bangsa mengusai Bangsa sendiri? Bukan asing mengusai bangsa ini!

Kenapa gak dikumpulin pemuda pemudi cerdas Bangsa kita dan bicarakan ttg rencana Pemerintah untuk mengelola Gunung Ciremai dan pikiran dan kerjakan bersama dg anak2 Bangsa?!?! kenapa harus diserahkan kepada Perusahaan Asing seperti Chevron. Apakah karena perusahaan dalam negeri atau BUMN dianggap tidak mampu dan tenaga ahli kita didalam negeri yg dihasilkan oleh Perguruan Tinggi seperti ITB, ITS, UI, Gajahmada tidak punya kapasitas untuk proyek Geothermal ini. Kalau jawabannya itu adalah proses tender, please deh… itu kan administrasi smua jg tau lah tender jg permainan… buat aja perusahan yg isinya anak2 Bangsa kita… ya win win solutions lah intinya, saling terbuka satu sama lain baik dr Pemerintah maupun masyarakat serta ilmuwan2 Bangsa.

Siapa bilang Anak Bangsa kita gak punya apa2… ilmunya sama tingginya dg org asing, cerdasnya sama, yg bikin beda kita gak punya MODAL MATERI untuk mendirikan perusahaan sendiri dan belum ada yg organisir perkumpulan tsb untuk membuat perush besar untuk mengelola SDA negara sendiri. Justru kita dibuat bangga bisa KERJA diperusahaan asing!!! Bangun guyssss…. kita sedang dijajah, dibuat tergiur kerja dengan mrk dg gaji besar tp hasil dr yg mrk dptkan dr bumi tercinta Indonesia bisa melunasi hutang2 kita!!!!
Karena itulah pemerintah selalu menyerahkan proyek=proyek besar kepada negara asing seperti Amerika misalnya. Kita belum percaya dengan kemampuan sendiri karena isi kepala kita diyakini oleh mereka (penguasa) bahwa kita tidak mampu!

Semua hasil sumber daya alam yg diambil dari perut bumi negeri ini adalah untuk kesejahteraan rakyat, misal terjaminnya kebutuhan akan listrik  semakin besar dan rakyat akan bisa membayar jauh lebih murah dari sekarang. Jangan nantinya kita membeli mahal dari perusahaan asing dan menjual listrik ke rakyat jauh lebih mahal lagi. Sama spt yg terjadi dengan hal2 lainnya…

Disamping itu benefit apa yg akan didapat oleh masyarakat sekitarnya dengan proyek Geothermal di wilayah mereka berkehidupan saat ini???? Harus dapat dipastikan bahwa kehidupan mereka  akan jauh lebih meningkat.  Dalam hal ini masyarakat Kuningan khususnya dan masyarakat Jawa Barat umumnya. Tapi saya ttp tdk setuju jika dikelola asing!!!! Gaji 10 juta perbulan pun untuk 1000 orang tidak cukup dg harga yg dihasilkan oleh Bumi kita…

Yang perlu kita ingat, banyak kita lihat sekarang diberbagai tempat Proyek besar dikelola asing seperti Free Port, Newmont, Exxon, Total, Shell termasuk Proyek Chevron, rakyat sekitarnya justru tidak menikmati bahkan bertambah susah kehidupannya. Disamping itu meninggalkan kerusakan alam yang cukup parah.

Dari berbagai kasus yang terjadi, pembangunan Proyek besar mengekspoitasi sumber daya alam karunia Tuhan utk rakyat Indonesia yang dikelola perusahaan asing, tercium aroma korupsi dan suap yang menguntungkan segelitir pejabat dengan kelompok atau golongannya serta perusahaan asing itu sendiri (sudah pasti), sementara rakyat atau negara sedikit sekali mendapatkan manfaat kalau tidak boleh dikatakan justru dirugikan.

Masyarakat  sudah semakin cerdas dan semakin aware terhadap pemanfaatan sumberdaya alam  baik Minyak, Gas, Mineral dan Batubara, karena ini adalah karunia Tuhan kepada Indonesia ini. Karena harusnya digunakan sebesarnya untuk kemakmuran rakyat. Mereka saat ini hanya dapat menyampaikannya melalui media sosial atau sms dengan sesamanya.

Pejabat Pemerintah termasuk DPR hendaknya mulai menyadari bahwa rakyat tidak bodoh dan tidak buta. Kebijakan dan perbuatan Anda diperhatikan dan diawasi oleh rakyat. Jangan dibiarkan sampai nanti meledak seperti Gunung Api yg erupsinya dapat merusak dengan dahsyat. Bila itu terjadi yang rugi adalah kita semua Bangsa Indonesia.

#SaveGunungCiremai